Dalam melakukan suatu Identifikasi Parameter dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya yang sudah di kenal adalah dengan Teknik Adaptive. Tenik adaptive ditinjau dari segi matematis memang sangat rumit. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Bode Diagram.
Bode Diagram merupakan salah satu teknik dalam respon analisis untuk mendeteksi magnitude dan phasa dari sistem jika diberi input sinusoida. Teknik ini dapat memprediksi Transfer Function dari sistem yang diberi input sinusoida melalui proses analisa gambar Diagram Bode. Kemudian transfer function yang diperoleh dicek kembali, apakah sudah dengan aslinya atau tidak. Sehingga identifikasi parameteryang dihasilakan dapat digunakan untuk mengontrol sistem dengan tepat.
Diagram Bode atau Diagram logaritmik merupakan suatu fungsi alih sinusoida yang terdiri dari dua buah grafik yang terpisah. Satu merupakan diagram dari logaritma dari besar fungsi alih sinusoida (magnitude), dan yang satunya lagi merupakan diagram sudut phasa. Keduanya digambar terhadap frekuensi dalam skala logaritmik.
Kelebihan utama penggunaan diagram logaritmik adalah bahwa perkalian dapat diubah menjadi penjumlahan. Selanjutnya, dengan menggunakan suatu metode yang didasarkan pada pembuatan asimtot, dapat dibuat sketsa kurva besaran log pendekatan.
Sebuah konstanta yang lebih besar dari satu maka mempunyai harga positif, sedangkan konstanta yang lebih kecil dari satu maka mempunyai harga negative.
Rangakaian yang berfungsi sebagai function generator yang terdiri dari DAC dan VCO, serta rangkaian Peak detector, ADC, dan Mikrokontroler MCS-51.
Kesimpulan
• Dari alat dan program yang dibuat sudah dapat berjalan dengan baik. Dari hasil pengujian didapatkan adanya error antara data awal magnitude dan hasil magnitude pada diagram Bode.
• Dengan pengambilan data yang terbatas ternyata error yang diperoleh cukup besar.
• Pada ICL8038jika difungsikan secara VTO maka range frekuensi yang dapat di hasilkan adalah sekita 560 Hz sampai dengan 21 kHz dengan tegangan input0 V sampai dengan -4.05 V.
• Secara umum sistem yang digunakan merupakan sistem Single Input Single Output.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
tugas : 13
Sabtu, 12 Desember 2009
Beberapa Kecenderungan Perkembangan Teknologi Penyediaan Tenaga Listrik
Umum
"Era Perubahan" atau "era of change" merupakan suatu ucapan yang dengan tepat menggambarkan suasana di mana perusahan-perusahaan penyedia tenaga listrik saat ini berada. Dengan perkembangan deregulasi yang kini terjadi di banyak negara, berbagai masalah yang dihadapi dan yang harus diselesaikan. Selain daripada itu, perubahan-perubahan terjadi pula dalam bidang penyediaan tenaga listrik, antara lain dalam bidang teknologi pembangkitan dan dalam bidang otomatisasi, yang kedua-duanya memberikan dampak yang besar pada pengelolaan perusahaan listrik. Dalam uraian ini diusahakan untuk mengemukakan beberapa kecenderungan perkembangan dalam dua bidang, yaitu teknologi pembangkitan dan teknologi otomatisasi.
Beberapa Kecenderungan Perkembangan Teknologi Pembangkit Listrik
Kedua kemelut energi yang terjadi pada tahun 1973 dan tahun 1979 menyoroti masalah ketergantungan suatu negara pada hanya satu jenis energi yang diimpor yaitu minyak. Hal ini menyebabkan terjadinya permintaan untuk pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang dapat mempergunakan jenis bahan bakar lain. Pada saat ini terdapat lima jenis bahan bakar untuk pembangkitan tenaga listrik, yaitu batubara, gas, hidro, nuklir dan minyak. Kemudian berkembang tuntutan-tuntutan lain, yaitu keperluan peningkatan efisiensi pembangkitan dan perlunya teknologi yang lebih bersahabat lingkungan. Aplikasi biomasa juga menjadi suatu sasaran yang penting.
Teknologi turbin gas, siklus kombinasi dan kogenerasi. Turbin gas kini memegang peran penting di dalam pengembangan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang baru. Peran itu tampaknya masih akan berlanjut memasuki abad ke-21 yang akan datang. Sebab utama dominasi ini adalah efisiensi termal yang tinggi. Perkembangan yang cepat dari teknologi turbin gas mulai awal 1990an meningkatkan efisiensi pusat listrik siklus kombinasi mendekati 60 persen dengan mempergunakan gas bumi sebagai bahan bakar. Diperkirakan bahwa efisiensi ini masih akan lebih meningkat lagi dalam beberapa tahun mendatang. Selain daripada itu, pembangkitan siklus kombinasi dengan bahan bakar gas, sering disebut pusat listrik tenaga gas uap, atau PLTGU, adalah relatif lebih murah dari PLTU-bataubara. Lebih baik lagi bilamana dapat diperoleh pemasokan gas bumi dengan harga rendah. Selanjutnya juga dapat disebut bahwa gas bumi sering disebut sebagai bahan bakar yang "bersih" sehingga sebuah PLTGU mengakibatkan pencemaran lingkungan minimal. Indonesia, dalam hal ini PT PLN (Persero), kini telah banyak mengoperasikan PLTGU. Dapat dikemukakan bahwa pada saat ini perusahaan Amerika GE (General Electric) berusaha untuk meningkatkan efisiensi PLTGU yang dapat melampaui 60 persen dengan mempergunakan siklus kombinasi Kalina, yang mempergunakan sebagai fluida kerja suatu campuran dari air dan amonia.
Teknologi kogenarsi, yang membangkitkan energi listrik dan panas dapat menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi lagi bahkan hingga 90 persen. Teknologi ini juga sudah dimanfaatkan di beberapa pabrik di Indonesia.
Teknologi batubara bersih. Secara global, lebih banyak energi listrik dibangkitkan dengan batubara dibandingkan dengan bahan bakar lain. Situasi ini tampaknya masih akan berlanjut terus. Hal ini disebabkan bahwa cadangan batubara adalah besar. di lain pihak, masalah batubara adalah bahwa pembangkitan tenaga listrik dengan bahan-bahan lain merupakan kontributor pencemaran yang besar. Karenanya berbagai usaha dilakukan untuk mengurangi masalah pencemaran itu, yang sering dinamakan teknologi batubara bersih.
Teknologi gasifikasi merupakan pemecahan yang kini mulai dipandang sebagai teknologi batubara yang dapat memenuhi keperluan akan pembangkitan tenaga listrik yang bersih dan efisien. Diperkirakan, bahwa pada awal abad ke-21, PLTU batubara dengan teknologi gasifikasi akan mengeluarkan 99 persen lebih sedikit sulfur dioksida (SO2) dan abu terbang, serta 90 persen kurang nitrogen oksida (NOx) dari PLTU batubara masa kini. PLTU batubara gasifikasi juga diperkirakan akan menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) dengan 35-40 %, menurunkan buangan padat dengan 40-50 % dan menghasilkan penghematan biaya daya 10-20 %. Teknologi gasifikasi digabung dengan teknologi turbin gas maju akan memegang peran utama dalam pusat-pusat pembangkit gasifikasi terpadu. Gasifikasi batubara maupun minyak residu sudah terjadi memanfaatkan kayu buangan atau bagas tebu juga menjanjikan. dengan meningkatnya tuntunan-tuntunan lingkungan, kemungkinan besar teknologi gasifikasi akan menyebabkan batubara akan dapat mempertahankan posisi utamanya sebagai bahan bakar untuk pembangkitan tenaga listrik. Karena memiliki cadangan batubara yang cukup besar,terutama yang berupa lignit, teknologi gasifikasi akan menjadi sangat penting bagi Indonesia di masa mendatang. Di Amerika Serikat telah ada bebarapa proyek demontrasi siklus kombinasi gas terpadu (Integrated Gas Combined Cycle, IGCC), antara lain Wabash River Repowering Project di Indiana dengan daya 262 MW, dan Camden Clean Energy Demonstration Project di New Jersey dengan daya 480 MW.
Teknologi pencairan batubara masih banyak terganggu oleh biaya yang tinggi. Negara yang paling maju dalam bidang ini adalah Afrika Selatan. Negara ini memiliki beberapa pabrik yang memproduksi batubara cair. Pabrik pertama adalah "Sasol One" terletak dekat kota Sasolburg, yang sejak pertengah 1950an telah berproduksi. Pabrik kedua, "Sasol Two", terletak di kota Secunde berproduksi sejak tahun 1980, dan pabrik ketiga, "Sasol Three", berproduksi sejak tahun 1982.nuklri mengalami beberapa perkembangan yang terutama merupakan pembuatan disain sedemikian hingga pusat listrik tenaga nuklir (PLTN) generasi berikut menjadi lebih andal, aman, ekonomis serta lebih mudah dioperasikan. Peningkatan keandalan dan keamanan diperoleh pada penyederhanaan sistem pipa primer, perbaikan pada mekanisme batang kendali, dan optimasi dari pendinginan intik dalam keadaan darurat. Peningkatan kemudahan operasi dan pemeliharaan antara lain karena perbaikan sistem instrumentasi dan pengendalian. Sedangkan penurunan biaya konstruksi dan operasi meningkatkan unjuk kerja secara ekonomis. Juga diperoleh penurunan jumlah dari limbah radioaktif yang dihasilkan. Di antara model-model baru dari beberapa pabrik dapat disebut ABWR (Advanced Boiling Water Reactor) dan SBWR (Simplified Boiling Water Reactor), kedua-duanya dari General Electric Kemudian westinghouse mengeluarkan tipe AP-600 sedangkan ABB-CE menghasilkan Sistem 80+. Sekalipun demikian dapat dikemukakan, bahwa sangat sedikit terjadi pembangunan PLTN yang baru. Juga Indonesia menangguhkan rencana pembangunan PLTN. Perkembangan terpesat PLTN kini terjadi di RRC, yang diperkirakan akan memiliki 20 GW daya terpasang PLTN pada tahun 2010, yang selain terbanyak terdiri atas PWR (Pressurized Water Reactor), juga akan membangun satu PLTN Candu (Canadian Deuterium Uranium), teknologi dari Kanada.
Magneto hidrodinamika. Teknologi pembangkit tenaga listrik magneto hidrodinamika (MHD) pada saat ini masih berada pada taraf pengembangan. PLT-MHD sistem terbuka dikembangkan di Rusia, dan mempergunakan batubara sebagai bahan bakar. Gas panas yang diberi benih dilewatkan suatu medan magnet yang kuat menghasilkan energi listrik arus searaha, yang dengan sebuah inventer dijadikan arus bolak-balik. sebuah instalasi berupa pilot proyek (U-25) MHD sebesar 25 MW dekat kota Moskow telah beroperasi. PLT-MHD sistem tertutup, yang memperguankan gas mulia dan memanfaatkan gas bumi sebagai bahan bakar, dikembangkan di Amerika Serikat. Antaralain westinghouse dan General Electric mengembangkan jenis pembangkit tenaga listrik ini.
Sel bahan bakar. Teknologi sel bahan bakar sebagai pembangkit tenaga listrik mempergunakan gas hidrogen sebagai bahan bakar. Pada asasnya cara kerja sel bahan bakar adalah kebalikan dari prinsip elektrolisa. Perusahaan general Electric dan general Atomic mengembangkan teknologi ini. Tokyo Electric Power Company di Tokyo, Jepang kini mengoperasikan sebuah pilot projek sebesar 11 MW, dan Consolidated Edison Company sebesar 4,8 MW di New York.
Energi terbarukan. Kebanyakan sumber daya energi terbarukan merupakan pendatang baru dalam bidang pembangkitan tenaga listrik. Penggunaan angin, panas bumi dan energi surya meningkat dalam tahun-tahun 1970-an dan 1980-an. Hal ini disebabkan terjadinya kemajuan teknologi, implementasi kebijakan pemerintah dan juga sebagai reaksi terhadap kemelut energi yang terjadi pada dekade 1970-an. Pemanfaatannya yang berlanjut juga disebabkan adanya persepsi nahwa energi terbarukan adalah bersahabat lingkungan dan juga mengurangi impor jenis bahan bakar lain. Akan tetapi, hingga kini pangsa pembangkitan tenaga listrik yang berasal dari energi terbarukan, termasu tenaga hidro, masih relatif kecil. Pada saat ini peran yang agak besar dari biomasa, angin dari sel suryaphotovoltaik, adalah pada listrik pedesaan. Peranan ini akan dapat menjadi lebih besar bilamana harga bahan bakar fosil akan banyak meningkat. Indonesia agak banyak memanfaatkan teknologi sel surya fotovoltaik untu listrik pedeaan.
Beberapa Perkembangan Teknologi Otomatisasi
Kemajuan-kemajuan yang terjadi dalam teknologi komputer dan komunikasi merupakan daya dorong penggunaan otomatisasi dalam semua industri, termasuk usaha penyediaan tenaga listrik. Era pemanfaatan komputer untuk aplikasi pemonitoran dan pengendalian berawal tahun 1950-an, terutama pada pusat-pusat tenaga listrik. Pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an terjadi peningkatan tajam dalam otomatisasi daya sebagai mini komputer. Muncul antara lain sistem SCADA (Supervisory Central and Data Acquisition) dan EMS (Energy Management Syatem). Secara umum dapat dikatakan, bahwa banyak kemajuan terjadi dalam bidang-bidang komunikasi, pembangkitan, operasi distribusi dan layanan pelanggan.
Teknologi komunikasi memegang peran penting dalam industri penyediaan tenaga listrik. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan memiliki dan mengoperasikan sistem komunikasi dengan kemampuan yang terbesar di banyak negara. Antara laian dapat dikemukakan pemanfaatan PLC (Power Line Carriers) antar pusat tenaga listrik melalui saluran-saluran transmisi. Teknologi-teknologi baru seperti pemanfaatan satelit, serta serat optik dan sistem komunikasi seluler kini telah mencapai tingkat pemantapan yang tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan oleh bidang penyediaan tenaga listrik. Perusahaan listrik berada dalam posisi yang kuat untuk bersaing dalam bidang komunikasi, karena memiliki lahan maupun tiang atau menara guna menggantung atau memasang serat atau kabel yang diperlukan. Selain dari itu banyak menara radio yang telah dipasang yang dapat dipakai sebagai antena. Penggunaan teknologi komunikasi yang mutakhir akan senantiasa diperlukan dan dimanfaatkan dalam bidang industri penyediaan tenaga listrik.
Pembangkitan tenaga listrik mengalami banyak dampak sebagai akibat deregulasi dan kompetisi yang terjadi dalam industri penyediaan tenaga listrik. Untuk menjadi kompetitif, perusahaan listrik perlu lebih memusatkan pemikiran pada keperluan para pelanggan. Sejumlah perusahaan listrik yang berfikir ke depan telah melakukan restrukturisasi usahanya dengan membentuk anak perusahaan pembangkitan (APP) dan anak perusahaan distribusi (ADP). Terbukanya akses pada jaringan transmisi mengakibatkan terjadinya perusahaan pembangkitan independen (PPI). Bahkan saluran transmisi akan dapat menjadi suatu perusahaan tersendiri. Dan dimungkinkan bahwa APP maupun PPI memiliki pelanggan tersendiri melalui perusahaan transmisi. Kiranya jelas, bahwa perkembangan-perkembangan ini membawa akibat besar terhadap operasi sistem yang memerlukan otomatisasi dengan taraf yang sangat canggih.
Distribusi tenaga listrik juga mengalami perubahan dinamika karena deregulasi. Otomatisasi dan pengendalian beban merupakan aspek-aspek yang banyak terpengaruh. Pengendalian beban didefinisikan sebagai kemampuan untuk pengendalian dari jarak beban pemakai dari satu tempat terpusat. dalam konteks ini pengelolaan sisi pemakai (demand-side) management) tidak termasuk pengendalian beban. Apakah pengendalian beban di waktu mendatang menjadi lebih penting, tergantung dari pertumbuhan otomatisasi di dalam operasi distribusi. Dalam banyak hal akan diperlukan sistem pengendalian yang lebih canggih daripada yang kini dipakai. Sistem-sistem GIS (Geographic Information System) semula merupakan sistem-sistem pemetaan dan pengelolaan fasilitas yang berawal di bagian teknik. Fasilitas-fasilitas itu kemudian dilengkapi dengan kemampuan utnuk mengikuti fasilitas-fsilitas distribusi. Walau semula sistem GIS kurang disukai, terutama karena biayanya tinggi, tuntutan-tuntutan masa kini menyebabkan bahwa GIS diperlukan dan mendukung perkembangan perusahaan, terutama di masa mendatang, dengan perluasan fasilitas distribusi yang cepat.
Pelayanan pelanggan kini kian lama menjadi kian penting. Salah satu bidang adalah pembacaan pengukuran otomatik (PPA). Biayanya hingga kini masih terasa tinggi dan karenanya dibatasi pada pelanggan besar seperti industri, pusat belanja, ataupun gedung-gedung tinggi. Pencatatan dan pelaporan pemadaman juga merupakan suatu bidang layanan yang masih lemah. Pada saat ini perusahaan listrik mencari peralatan yang memiliki kemampuan mencatat terjadinya pemadaman. Bilamana hal itu terjadi, alat itu melaporkan adanya pemadaman. Beberapa perusahaan listrik menyediakan peralatan di mana pelanggannya memasukkannya ke dalam outlet listrik dan telepon. Bilamana pemadaman terjadi, alat ini melaporkannya kepada perusahaan listrik. hal ini sangat banyak meningkatkan layanan pelanggan. Selain itu, layanan pelanggan masih dapat lebih ditingkatkan dalam bidang pembuatan rekening, dan pengelolaan sisi pemakai.
Penutup
Dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan perkembangan teknologi yang kini terjadi, beberapa catatan dapat dibuat. Penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar pembangkitan energi listrik akan meningkat dengan pesat di mana-mana. Pemanfaatan batubara juga akan meningkat, sekalipun tidak setajam gas. Posisi batubara sebagai bahan bakar utama akan dapat dipertahankan. Pemanfaatan minyak akan banyak menurun. Minat akan energi terbarukan akan meningkat juga, sekalipun secara relatif memiliki peran yang masih kecil. Sedangkan permintaan akan energi nuklir secara global tidak akan seberapa meningkat.
Efisiensi pembangkitan tenaga listrik akan meningkat, bukan saja karena teknologi pembangkitannya menjadi lebih baik, akan tetapi juga karena pengusahaan tenaga listrik makin lama makin banyak mempergunakan otomatisasi. Layanan pelanggan juga akan meningkat disebabkan faktor otomatisasi. Dan juga perlu disebut masalah lingkungan akan menjadi lebih kecil karena perkembangan teknologi yang lebih bersahabat lingkungan.
Daftar Pustaka
1. Kadir, A., "Energi: Sumberdaya, Inovasi, Tenaga Listrik, Potensi Ekonomi", Penerbit Universitas Indonesia, jakarta, 1995.
2. Kadir, A., "Pembangkit Tenaga Listrik", Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1997.
3. Kato, M. and S. Yukawa, "Recent Trends in Thermal Power Plant Generation", Hitachi Review, Vol 27, No. 7, 1990.
4. Pennwell, "International Electric Power Encyclopedia", Pennwell Publishing company, Tulsa, 1999.
5. Wood, allen J. and Bruce F. Wollenbay, "Power Generation, Operation & Control", John Wiley & Sons, New York, 1991.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Prof. Ir. Abdul Kadir, IPM adalah Ketua Sekolah Tinggi
Teknik Yayasan PLN, Jakarta.
Tugas : 12
"Era Perubahan" atau "era of change" merupakan suatu ucapan yang dengan tepat menggambarkan suasana di mana perusahan-perusahaan penyedia tenaga listrik saat ini berada. Dengan perkembangan deregulasi yang kini terjadi di banyak negara, berbagai masalah yang dihadapi dan yang harus diselesaikan. Selain daripada itu, perubahan-perubahan terjadi pula dalam bidang penyediaan tenaga listrik, antara lain dalam bidang teknologi pembangkitan dan dalam bidang otomatisasi, yang kedua-duanya memberikan dampak yang besar pada pengelolaan perusahaan listrik. Dalam uraian ini diusahakan untuk mengemukakan beberapa kecenderungan perkembangan dalam dua bidang, yaitu teknologi pembangkitan dan teknologi otomatisasi.
Beberapa Kecenderungan Perkembangan Teknologi Pembangkit Listrik
Kedua kemelut energi yang terjadi pada tahun 1973 dan tahun 1979 menyoroti masalah ketergantungan suatu negara pada hanya satu jenis energi yang diimpor yaitu minyak. Hal ini menyebabkan terjadinya permintaan untuk pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang dapat mempergunakan jenis bahan bakar lain. Pada saat ini terdapat lima jenis bahan bakar untuk pembangkitan tenaga listrik, yaitu batubara, gas, hidro, nuklir dan minyak. Kemudian berkembang tuntutan-tuntutan lain, yaitu keperluan peningkatan efisiensi pembangkitan dan perlunya teknologi yang lebih bersahabat lingkungan. Aplikasi biomasa juga menjadi suatu sasaran yang penting.
Teknologi turbin gas, siklus kombinasi dan kogenerasi. Turbin gas kini memegang peran penting di dalam pengembangan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang baru. Peran itu tampaknya masih akan berlanjut memasuki abad ke-21 yang akan datang. Sebab utama dominasi ini adalah efisiensi termal yang tinggi. Perkembangan yang cepat dari teknologi turbin gas mulai awal 1990an meningkatkan efisiensi pusat listrik siklus kombinasi mendekati 60 persen dengan mempergunakan gas bumi sebagai bahan bakar. Diperkirakan bahwa efisiensi ini masih akan lebih meningkat lagi dalam beberapa tahun mendatang. Selain daripada itu, pembangkitan siklus kombinasi dengan bahan bakar gas, sering disebut pusat listrik tenaga gas uap, atau PLTGU, adalah relatif lebih murah dari PLTU-bataubara. Lebih baik lagi bilamana dapat diperoleh pemasokan gas bumi dengan harga rendah. Selanjutnya juga dapat disebut bahwa gas bumi sering disebut sebagai bahan bakar yang "bersih" sehingga sebuah PLTGU mengakibatkan pencemaran lingkungan minimal. Indonesia, dalam hal ini PT PLN (Persero), kini telah banyak mengoperasikan PLTGU. Dapat dikemukakan bahwa pada saat ini perusahaan Amerika GE (General Electric) berusaha untuk meningkatkan efisiensi PLTGU yang dapat melampaui 60 persen dengan mempergunakan siklus kombinasi Kalina, yang mempergunakan sebagai fluida kerja suatu campuran dari air dan amonia.
Teknologi kogenarsi, yang membangkitkan energi listrik dan panas dapat menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi lagi bahkan hingga 90 persen. Teknologi ini juga sudah dimanfaatkan di beberapa pabrik di Indonesia.
Teknologi batubara bersih. Secara global, lebih banyak energi listrik dibangkitkan dengan batubara dibandingkan dengan bahan bakar lain. Situasi ini tampaknya masih akan berlanjut terus. Hal ini disebabkan bahwa cadangan batubara adalah besar. di lain pihak, masalah batubara adalah bahwa pembangkitan tenaga listrik dengan bahan-bahan lain merupakan kontributor pencemaran yang besar. Karenanya berbagai usaha dilakukan untuk mengurangi masalah pencemaran itu, yang sering dinamakan teknologi batubara bersih.
Teknologi gasifikasi merupakan pemecahan yang kini mulai dipandang sebagai teknologi batubara yang dapat memenuhi keperluan akan pembangkitan tenaga listrik yang bersih dan efisien. Diperkirakan, bahwa pada awal abad ke-21, PLTU batubara dengan teknologi gasifikasi akan mengeluarkan 99 persen lebih sedikit sulfur dioksida (SO2) dan abu terbang, serta 90 persen kurang nitrogen oksida (NOx) dari PLTU batubara masa kini. PLTU batubara gasifikasi juga diperkirakan akan menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) dengan 35-40 %, menurunkan buangan padat dengan 40-50 % dan menghasilkan penghematan biaya daya 10-20 %. Teknologi gasifikasi digabung dengan teknologi turbin gas maju akan memegang peran utama dalam pusat-pusat pembangkit gasifikasi terpadu. Gasifikasi batubara maupun minyak residu sudah terjadi memanfaatkan kayu buangan atau bagas tebu juga menjanjikan. dengan meningkatnya tuntunan-tuntunan lingkungan, kemungkinan besar teknologi gasifikasi akan menyebabkan batubara akan dapat mempertahankan posisi utamanya sebagai bahan bakar untuk pembangkitan tenaga listrik. Karena memiliki cadangan batubara yang cukup besar,terutama yang berupa lignit, teknologi gasifikasi akan menjadi sangat penting bagi Indonesia di masa mendatang. Di Amerika Serikat telah ada bebarapa proyek demontrasi siklus kombinasi gas terpadu (Integrated Gas Combined Cycle, IGCC), antara lain Wabash River Repowering Project di Indiana dengan daya 262 MW, dan Camden Clean Energy Demonstration Project di New Jersey dengan daya 480 MW.
Teknologi pencairan batubara masih banyak terganggu oleh biaya yang tinggi. Negara yang paling maju dalam bidang ini adalah Afrika Selatan. Negara ini memiliki beberapa pabrik yang memproduksi batubara cair. Pabrik pertama adalah "Sasol One" terletak dekat kota Sasolburg, yang sejak pertengah 1950an telah berproduksi. Pabrik kedua, "Sasol Two", terletak di kota Secunde berproduksi sejak tahun 1980, dan pabrik ketiga, "Sasol Three", berproduksi sejak tahun 1982.nuklri mengalami beberapa perkembangan yang terutama merupakan pembuatan disain sedemikian hingga pusat listrik tenaga nuklir (PLTN) generasi berikut menjadi lebih andal, aman, ekonomis serta lebih mudah dioperasikan. Peningkatan keandalan dan keamanan diperoleh pada penyederhanaan sistem pipa primer, perbaikan pada mekanisme batang kendali, dan optimasi dari pendinginan intik dalam keadaan darurat. Peningkatan kemudahan operasi dan pemeliharaan antara lain karena perbaikan sistem instrumentasi dan pengendalian. Sedangkan penurunan biaya konstruksi dan operasi meningkatkan unjuk kerja secara ekonomis. Juga diperoleh penurunan jumlah dari limbah radioaktif yang dihasilkan. Di antara model-model baru dari beberapa pabrik dapat disebut ABWR (Advanced Boiling Water Reactor) dan SBWR (Simplified Boiling Water Reactor), kedua-duanya dari General Electric Kemudian westinghouse mengeluarkan tipe AP-600 sedangkan ABB-CE menghasilkan Sistem 80+. Sekalipun demikian dapat dikemukakan, bahwa sangat sedikit terjadi pembangunan PLTN yang baru. Juga Indonesia menangguhkan rencana pembangunan PLTN. Perkembangan terpesat PLTN kini terjadi di RRC, yang diperkirakan akan memiliki 20 GW daya terpasang PLTN pada tahun 2010, yang selain terbanyak terdiri atas PWR (Pressurized Water Reactor), juga akan membangun satu PLTN Candu (Canadian Deuterium Uranium), teknologi dari Kanada.
Magneto hidrodinamika. Teknologi pembangkit tenaga listrik magneto hidrodinamika (MHD) pada saat ini masih berada pada taraf pengembangan. PLT-MHD sistem terbuka dikembangkan di Rusia, dan mempergunakan batubara sebagai bahan bakar. Gas panas yang diberi benih dilewatkan suatu medan magnet yang kuat menghasilkan energi listrik arus searaha, yang dengan sebuah inventer dijadikan arus bolak-balik. sebuah instalasi berupa pilot proyek (U-25) MHD sebesar 25 MW dekat kota Moskow telah beroperasi. PLT-MHD sistem tertutup, yang memperguankan gas mulia dan memanfaatkan gas bumi sebagai bahan bakar, dikembangkan di Amerika Serikat. Antaralain westinghouse dan General Electric mengembangkan jenis pembangkit tenaga listrik ini.
Sel bahan bakar. Teknologi sel bahan bakar sebagai pembangkit tenaga listrik mempergunakan gas hidrogen sebagai bahan bakar. Pada asasnya cara kerja sel bahan bakar adalah kebalikan dari prinsip elektrolisa. Perusahaan general Electric dan general Atomic mengembangkan teknologi ini. Tokyo Electric Power Company di Tokyo, Jepang kini mengoperasikan sebuah pilot projek sebesar 11 MW, dan Consolidated Edison Company sebesar 4,8 MW di New York.
Energi terbarukan. Kebanyakan sumber daya energi terbarukan merupakan pendatang baru dalam bidang pembangkitan tenaga listrik. Penggunaan angin, panas bumi dan energi surya meningkat dalam tahun-tahun 1970-an dan 1980-an. Hal ini disebabkan terjadinya kemajuan teknologi, implementasi kebijakan pemerintah dan juga sebagai reaksi terhadap kemelut energi yang terjadi pada dekade 1970-an. Pemanfaatannya yang berlanjut juga disebabkan adanya persepsi nahwa energi terbarukan adalah bersahabat lingkungan dan juga mengurangi impor jenis bahan bakar lain. Akan tetapi, hingga kini pangsa pembangkitan tenaga listrik yang berasal dari energi terbarukan, termasu tenaga hidro, masih relatif kecil. Pada saat ini peran yang agak besar dari biomasa, angin dari sel suryaphotovoltaik, adalah pada listrik pedesaan. Peranan ini akan dapat menjadi lebih besar bilamana harga bahan bakar fosil akan banyak meningkat. Indonesia agak banyak memanfaatkan teknologi sel surya fotovoltaik untu listrik pedeaan.
Beberapa Perkembangan Teknologi Otomatisasi
Kemajuan-kemajuan yang terjadi dalam teknologi komputer dan komunikasi merupakan daya dorong penggunaan otomatisasi dalam semua industri, termasuk usaha penyediaan tenaga listrik. Era pemanfaatan komputer untuk aplikasi pemonitoran dan pengendalian berawal tahun 1950-an, terutama pada pusat-pusat tenaga listrik. Pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an terjadi peningkatan tajam dalam otomatisasi daya sebagai mini komputer. Muncul antara lain sistem SCADA (Supervisory Central and Data Acquisition) dan EMS (Energy Management Syatem). Secara umum dapat dikatakan, bahwa banyak kemajuan terjadi dalam bidang-bidang komunikasi, pembangkitan, operasi distribusi dan layanan pelanggan.
Teknologi komunikasi memegang peran penting dalam industri penyediaan tenaga listrik. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan memiliki dan mengoperasikan sistem komunikasi dengan kemampuan yang terbesar di banyak negara. Antara laian dapat dikemukakan pemanfaatan PLC (Power Line Carriers) antar pusat tenaga listrik melalui saluran-saluran transmisi. Teknologi-teknologi baru seperti pemanfaatan satelit, serta serat optik dan sistem komunikasi seluler kini telah mencapai tingkat pemantapan yang tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan oleh bidang penyediaan tenaga listrik. Perusahaan listrik berada dalam posisi yang kuat untuk bersaing dalam bidang komunikasi, karena memiliki lahan maupun tiang atau menara guna menggantung atau memasang serat atau kabel yang diperlukan. Selain dari itu banyak menara radio yang telah dipasang yang dapat dipakai sebagai antena. Penggunaan teknologi komunikasi yang mutakhir akan senantiasa diperlukan dan dimanfaatkan dalam bidang industri penyediaan tenaga listrik.
Pembangkitan tenaga listrik mengalami banyak dampak sebagai akibat deregulasi dan kompetisi yang terjadi dalam industri penyediaan tenaga listrik. Untuk menjadi kompetitif, perusahaan listrik perlu lebih memusatkan pemikiran pada keperluan para pelanggan. Sejumlah perusahaan listrik yang berfikir ke depan telah melakukan restrukturisasi usahanya dengan membentuk anak perusahaan pembangkitan (APP) dan anak perusahaan distribusi (ADP). Terbukanya akses pada jaringan transmisi mengakibatkan terjadinya perusahaan pembangkitan independen (PPI). Bahkan saluran transmisi akan dapat menjadi suatu perusahaan tersendiri. Dan dimungkinkan bahwa APP maupun PPI memiliki pelanggan tersendiri melalui perusahaan transmisi. Kiranya jelas, bahwa perkembangan-perkembangan ini membawa akibat besar terhadap operasi sistem yang memerlukan otomatisasi dengan taraf yang sangat canggih.
Distribusi tenaga listrik juga mengalami perubahan dinamika karena deregulasi. Otomatisasi dan pengendalian beban merupakan aspek-aspek yang banyak terpengaruh. Pengendalian beban didefinisikan sebagai kemampuan untuk pengendalian dari jarak beban pemakai dari satu tempat terpusat. dalam konteks ini pengelolaan sisi pemakai (demand-side) management) tidak termasuk pengendalian beban. Apakah pengendalian beban di waktu mendatang menjadi lebih penting, tergantung dari pertumbuhan otomatisasi di dalam operasi distribusi. Dalam banyak hal akan diperlukan sistem pengendalian yang lebih canggih daripada yang kini dipakai. Sistem-sistem GIS (Geographic Information System) semula merupakan sistem-sistem pemetaan dan pengelolaan fasilitas yang berawal di bagian teknik. Fasilitas-fasilitas itu kemudian dilengkapi dengan kemampuan utnuk mengikuti fasilitas-fsilitas distribusi. Walau semula sistem GIS kurang disukai, terutama karena biayanya tinggi, tuntutan-tuntutan masa kini menyebabkan bahwa GIS diperlukan dan mendukung perkembangan perusahaan, terutama di masa mendatang, dengan perluasan fasilitas distribusi yang cepat.
Pelayanan pelanggan kini kian lama menjadi kian penting. Salah satu bidang adalah pembacaan pengukuran otomatik (PPA). Biayanya hingga kini masih terasa tinggi dan karenanya dibatasi pada pelanggan besar seperti industri, pusat belanja, ataupun gedung-gedung tinggi. Pencatatan dan pelaporan pemadaman juga merupakan suatu bidang layanan yang masih lemah. Pada saat ini perusahaan listrik mencari peralatan yang memiliki kemampuan mencatat terjadinya pemadaman. Bilamana hal itu terjadi, alat itu melaporkan adanya pemadaman. Beberapa perusahaan listrik menyediakan peralatan di mana pelanggannya memasukkannya ke dalam outlet listrik dan telepon. Bilamana pemadaman terjadi, alat ini melaporkannya kepada perusahaan listrik. hal ini sangat banyak meningkatkan layanan pelanggan. Selain itu, layanan pelanggan masih dapat lebih ditingkatkan dalam bidang pembuatan rekening, dan pengelolaan sisi pemakai.
Penutup
Dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan perkembangan teknologi yang kini terjadi, beberapa catatan dapat dibuat. Penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar pembangkitan energi listrik akan meningkat dengan pesat di mana-mana. Pemanfaatan batubara juga akan meningkat, sekalipun tidak setajam gas. Posisi batubara sebagai bahan bakar utama akan dapat dipertahankan. Pemanfaatan minyak akan banyak menurun. Minat akan energi terbarukan akan meningkat juga, sekalipun secara relatif memiliki peran yang masih kecil. Sedangkan permintaan akan energi nuklir secara global tidak akan seberapa meningkat.
Efisiensi pembangkitan tenaga listrik akan meningkat, bukan saja karena teknologi pembangkitannya menjadi lebih baik, akan tetapi juga karena pengusahaan tenaga listrik makin lama makin banyak mempergunakan otomatisasi. Layanan pelanggan juga akan meningkat disebabkan faktor otomatisasi. Dan juga perlu disebut masalah lingkungan akan menjadi lebih kecil karena perkembangan teknologi yang lebih bersahabat lingkungan.
Daftar Pustaka
1. Kadir, A., "Energi: Sumberdaya, Inovasi, Tenaga Listrik, Potensi Ekonomi", Penerbit Universitas Indonesia, jakarta, 1995.
2. Kadir, A., "Pembangkit Tenaga Listrik", Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1997.
3. Kato, M. and S. Yukawa, "Recent Trends in Thermal Power Plant Generation", Hitachi Review, Vol 27, No. 7, 1990.
4. Pennwell, "International Electric Power Encyclopedia", Pennwell Publishing company, Tulsa, 1999.
5. Wood, allen J. and Bruce F. Wollenbay, "Power Generation, Operation & Control", John Wiley & Sons, New York, 1991.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Prof. Ir. Abdul Kadir, IPM adalah Ketua Sekolah Tinggi
Teknik Yayasan PLN, Jakarta.
Tugas : 12
Metoda Penyediaan Sumber Daya DC
Dari berbagai ragam barang atau peralatan elektronik yang kita jumpai saat ini, akan kita dapati bahwa hampir semua bagian bagiannya dijalankan oleh sumber tenaga satu arah (DC). Penyediaan sumber tenaga DC tersebut dapat dalam bentuk baterai ataupun sumber daya (power supply) DC yang mana keluaran DC nya tidak hanya harus tersaring (filter) dengan bersih tetapi juga teregulasi dengan baik. Dalam sistem pengubahan daya, terdapat empat jenis proses yang telah dikenal yaitu sistim pengubahan daya AC ke DC, DC ke DC, DC ke AC, dan AC ke AC. Masing masing sistem pengubahan memiliki keunikan aplikasi tersendiri, namun ada dua yang implementasinya kemudian berkembang pesat dan luas yaitu sistim pengubahan AC ke DC (DC power supply) dan DC ke DC (DC-DC converter). Teknologi penyediaan tenaga DC telah mengalami evolusi selama bertahun-tahun dari menggunakan pipa vakum (vacuum tube) yang berukuran besar dan sekaligus berbahaya karena bertegangan tinggi, sampai kepada metoda penyediaan yang memanfaatkan teknologi solid state dengan ukuran yang lebih kecil dan berkapasitas tegangan yang lebih rendah sehingga relatif lebih aman. Lain daripada itu, seperti yang telah disebut sebelumnya, bahwa penyediaan sumber tenaga DC ini memegang peranan yang sangat penting dalam penggunaan barang barang elektronik, maka dari itu peralatan penyedia sumber tenaga DC ini, seperti power supply DC dan pengubah DC-DC (DC-DC converter), menjadi salah satu bidang elektronik yang meraih pasaran yang besar. Tercatat bahwa penjualan power supply DC dan DC-DC converter diseluruh dunia tahun lalu mencapai angka 5 milyar dolar AS . Angka ini akan terus menanjak, seiring dengan bertambahnya konsumen barang barang eletronik dewasa ini maupun dimasa mendatang.
Selanjutnya, perkembangan teknologi penyediaan tenaga DC tidak hanya berkisar pada kemampuan untuk mengurangi atau menambah kapasitas daya serta menurunkan dimensi fisik, tetapi juga pada cara pengolahan daya itu sendiri. Pada mulanya metoda yang digunakan dikenal dengan nama tipe linier (linear mode). Pada sistim pengubahan AC ke DC, tipe linier bercirikan penggunaan kombinasi transformer 50/60Hz yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyearah (rectifier), penyaring (filter), dan akhirnya pengatur linier (linear regulator). Oleh karena pengolahan frekuensi 50/60Hz inilah maka tipe linier cenderung menghasilkan alat penyedia daya DC yang relatif besar ukurannya, karena komponen yang dipakai untuk mengolah 50/60 Hz tersebut seperti transformer maupun kapasitornya akan berukuran besar pula. Kemudian lahir tipe ke dua yang dikenal sebagai tipe peralihan atau switching (switching mode), yang tidak hanya menghasilkan penyediaan daya DC yang jauh lebih efisien dari tipe linier, tetapi juga relatif lebih kecil dan ringan ukurannya. Pada tipe switching, strategi yang dipakai adalah dengan menghilangkan proses pengolahan frekuensi 50/60 Hz melalui proses penyearah (rectification) langsung dari voltase masukan, kemudian keluaran dari penyearah tadi mengalami proses pemotongan (chopped) sehingga menghasilkan deretan pulsa yang berfrekuensi (switching frequency) tinggi, sekitar 20 kHz sampai 500 kHz, lalu diteruskan ke transformer yang tentunya juga berfrekuensi tinggi, hingga pada akhirnya ke filter untuk hasil keluaran akhir. Sebagai akibat pengolahan daya melalui frekuensi tinggi inilah maka tipe swtiching menghasilkan produk akhir yang ukuran dan beratnya akan lebih kecil dari tipe linier.
Tipe Linier
Beberapa fungsi yang masuk dalam proses pengubahan daya AC ke DC adalah sebagai berikut:
• Pengubahan Tegangan atau Voltase, berfungsi untuk mengubah tegangan listrik yang tersedia dari jaringan distribusi transmisi listrik ke level yang diinginkan
• Penyearah, sebagai pengubah arah tegangan atau voltase dari AC ke DC
• Filter atau penyaring, bertugas sebagai pembersih gelombang keluaran dari riak (ripple) yang berasal dari proses penyearahan
• Pengaturan (regulation), bertujuan untuk mengendalikan tegangan keluaran sehingga menjadi stabil walaupun terjadi variasi atau perubahan pada suhu, beban, maupun tegangan masukan dari jaringan transmisi listrik
Idealnya, pengubahan daya ke DC memiliki karateristik seperti misalnya efisiensi 100%, gelombang keluaran yang tetap (constant output) walaupun dihadapkan pada variasi dari voltase transmisi (untuk power supply DC), arus pada beban, maupun suhu. Karakteristik ideal lainnya adalah tidak memiliki impedansi pada terminal keluaran (zero impedance output) untuk setiap jenjang frekuensi, dan juga tidak memiliki gangguan (noise) maupun ripple pada gelombang keluaran.
Pada konfigurasi Center-Tapped Transformer, hanya terdapat dua buah dioda didalamnya dan dengan demikian hanya ada satu penjatuhan tegangan (voltage drop) pada dioda disetiap jalur arus dari transformer ke filter kapasitor. Lain halnya dengan konfigurasi Bridge yang menggunakan empat buah dioda, sehingga mengakibatkan dua voltage drop pada dioda disetiap jalur arus dari sisi transformer ke sisi filter. Namun demikian, walaupun Center-Tapped memiliki keuntungan pemakaian komponen yang lebih sedikit, namun setiap dioda paling tidak harus menahan tegangan balik (reverse voltage) yang besarnya dua kali lipat dari pada setiap dioda yang digunakan pada konfigurasi Bridge.
Tipe Peralihan (Switching)
Power Supply tipe switching menjadi semakin populer pemakaiannya karena tipe ini memberikan penyediaan daya DC yang efisiensi dan densitas dayanya sangat tinggi dibandingkan dengan tipe linier. Untuk lebih jelasnya, beberapa perbandingan antara kedua tipe tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Spesifikasi Tipe Linier Tipe Switching
Pengaturan Beban (Load regulation)
Variasi Gelombang Keluaran (Output Ripple)
Variasi Voltase masukan (Input Voltage Range)
Efisiensi
Densitas Daya (Power Density)
Waktu Peralihan (Transient Recovery) 0.02-0.01%
0.5-2 mV rms
+/- 10%
40-55%
0.5 W/in^3
50 usec 0.1-1.0%
25-100 mV p-p
+/- 50%
60-80%
2.3 W/in^3
300 usec
Tabel 1. Perbandingan antara tipe Linier dan Switching
Dari segi efisiensi, tipe linier tidak begitu baik, karena pada prosesnya hasil keluaran penyearah diturunkan tegangannya melalui pengatur linier (linear regulator), dan selisih antara tegangan yang masuk dan tegangan yang dihasilkan dibuang dalam bentuk panas. Akibat penyerapan panas (pembuangan energi) yang besar dalam proses tipe linier tersebut sehingga efisiensinya pun menjadi kecil. Sedangkan pada tipe switching, perbaikan efisiensi dicapai dengan cara pengaturan medan magnet akibat selisih tegangan masukan dengan keluaran. Pengaturan yang dimaksud berhubungan dengan proses penyimpanan dan pembuangan energi magnet yang mana pada waktu komponen penyimpan energi magnet sampai pada titik energi tertentu, maka switch yang dipakai untuk mengirim daya ke sisi beban dimatikan (off state), dan komponen penyimpan energi magnet tadi kemudian mengambil alih tugas switch untuk mengirim daya yang tersimpan menuju ke sisi beban. Apabila ‘tabungan’ energi magnet tadi hampir habis, maka switch kembali dihidupkan (on state) untuk mengambil alih kembali tugas pengiriman daya ke beban dan secara bersamaan mulai menyimpan kembali energi magnet untuk mengulang proses yang sama.
Salah satu topologi dari power supply tipe switching adalah dengan metoda flyback (flyback regulator). Pengaturan besarnya daya keluaran melalui komponen switch dikendalikan dengan metoda modulasi lebar pulsa atau PWM (Pulse Width Modulation) dimana semakin lama switch berstatus ON semakin banyak energi yang disimpan dalam transformer dan semakin besar pula daya yang dikirim ke beban. Selain itu, untuk menghasilkan tegangan keluaran yang stabil, maka tegangan tersebut dapat diumpan balik dan dibandingkan dengan tegangan referensi (reference voltage) dan selisihnya kemudian dapat digunakan untuk mengendalikan lamanya switch berstatus ON dan OFF. Sebutan lain power supply tipe switching adalah tipe "off-line" karena tegangan DC yang menjadi masukan adalah melalui proses penyearah langsung dengan penyearah Bridge dari sisi AC atau dari jaringan listrik dengan tanpa menggunakan transformer 50 atau 60 Hz. Pada rangkaian yang sama juga terlihat adanya sistim umpan balik yang harus terisolasi dari sisi AC dengan menggunakan transformer ukuran kecil ataupun dengan opto-isolator.
Banyak power supply dari tipe switching yang memiliki lebih dari satu keluaran. Banyaknya keluaran tersebut akan sangat berguna karena sering kita jumpai bermacam peralatan elektronika seperti halnya dalam sistim komputer yang membutuhkan tegangan atau daya yang berbeda beda untuk bermacam bagian atau komponen didalamnya.
Satu hal yang juga penting dalam implementasi power supply adalah cara pemasangan yang sesuai untuk pendistribusian beban.
Kesimpulan
Dalam memilih sistim pengubah daya baik itu dari daya AC ke DC maupun DC ke DC, pertama kali kita dihadapkan pada pilihan antara tipe linier atau switching. Pilihan mana yang kita ambil tentu saja tergantung dari aplikasi yang akan dibuat dengan batasan atau spesifikasi yang tersedia. Misalnya saja, untuk aplikasi dimana ukuran ataupun berat bukan merupakan hal yang penting, maka tipe linier lah yang paling sesuai karena selain sederhana dalam rancangannya juga sangat baik dalam pengaturan beban dan juga sangat kecil tingkat ripple dan noise pada keluarannya. Namun untuk aplikasi dimana fleksibilitas, dimensi fisik dan efisiensi tinggi sangat berperan seperti misalnya pada aplikasi ruang angkasa, maka tipe switchinglah yang menjadi solusinya.
Penelitian dan pengembangan teknologi pengubahan daya, terutama pada tipe switching, masih terus berlangsung dengan aktif sampai saat ini. Hal tersebut bervariasi dari yang bertujuan untuk menghasilkan teknik yang lebih meningkatkan efisiensi, investigasi pengolahan daya yang dapat mengurangi daya yang hilang (power loss) pada komponen switch, penelitian berbagai macam aplikasi sistim pengubah daya, sampai pada pencarian alternatif penggunaan komponen switch yang cepat sehingga dapat meningkatkan kecepatan frekuensi switching. Tambahan lagi, seperti sudah disebut sebelumnya bahwa bisnis peralatan pengubah daya tersebut, saat ini telah mencapai 5 milyar dolar AS pertahunnya dan akan terus meningkat dengan bertambahnya konsumen atau pemakai paralatan elektronika. Oleh karena itu, sangatlah disayangkan jika Indonesia tidak ikut berperan aktif dalam menggunakan peluang yang baik tersebut untuk penelitian, pengembangan, maupun pemasaran teknologi sistim pengubahan daya yang relatif tidak mahal dan tidak sulit untuk diterapkan di Indonesia.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, " PWM (Pulse Width Modulation) ", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Taufik, ST ,MT
Tugas : 11
Selanjutnya, perkembangan teknologi penyediaan tenaga DC tidak hanya berkisar pada kemampuan untuk mengurangi atau menambah kapasitas daya serta menurunkan dimensi fisik, tetapi juga pada cara pengolahan daya itu sendiri. Pada mulanya metoda yang digunakan dikenal dengan nama tipe linier (linear mode). Pada sistim pengubahan AC ke DC, tipe linier bercirikan penggunaan kombinasi transformer 50/60Hz yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyearah (rectifier), penyaring (filter), dan akhirnya pengatur linier (linear regulator). Oleh karena pengolahan frekuensi 50/60Hz inilah maka tipe linier cenderung menghasilkan alat penyedia daya DC yang relatif besar ukurannya, karena komponen yang dipakai untuk mengolah 50/60 Hz tersebut seperti transformer maupun kapasitornya akan berukuran besar pula. Kemudian lahir tipe ke dua yang dikenal sebagai tipe peralihan atau switching (switching mode), yang tidak hanya menghasilkan penyediaan daya DC yang jauh lebih efisien dari tipe linier, tetapi juga relatif lebih kecil dan ringan ukurannya. Pada tipe switching, strategi yang dipakai adalah dengan menghilangkan proses pengolahan frekuensi 50/60 Hz melalui proses penyearah (rectification) langsung dari voltase masukan, kemudian keluaran dari penyearah tadi mengalami proses pemotongan (chopped) sehingga menghasilkan deretan pulsa yang berfrekuensi (switching frequency) tinggi, sekitar 20 kHz sampai 500 kHz, lalu diteruskan ke transformer yang tentunya juga berfrekuensi tinggi, hingga pada akhirnya ke filter untuk hasil keluaran akhir. Sebagai akibat pengolahan daya melalui frekuensi tinggi inilah maka tipe swtiching menghasilkan produk akhir yang ukuran dan beratnya akan lebih kecil dari tipe linier.
Tipe Linier
Beberapa fungsi yang masuk dalam proses pengubahan daya AC ke DC adalah sebagai berikut:
• Pengubahan Tegangan atau Voltase, berfungsi untuk mengubah tegangan listrik yang tersedia dari jaringan distribusi transmisi listrik ke level yang diinginkan
• Penyearah, sebagai pengubah arah tegangan atau voltase dari AC ke DC
• Filter atau penyaring, bertugas sebagai pembersih gelombang keluaran dari riak (ripple) yang berasal dari proses penyearahan
• Pengaturan (regulation), bertujuan untuk mengendalikan tegangan keluaran sehingga menjadi stabil walaupun terjadi variasi atau perubahan pada suhu, beban, maupun tegangan masukan dari jaringan transmisi listrik
Idealnya, pengubahan daya ke DC memiliki karateristik seperti misalnya efisiensi 100%, gelombang keluaran yang tetap (constant output) walaupun dihadapkan pada variasi dari voltase transmisi (untuk power supply DC), arus pada beban, maupun suhu. Karakteristik ideal lainnya adalah tidak memiliki impedansi pada terminal keluaran (zero impedance output) untuk setiap jenjang frekuensi, dan juga tidak memiliki gangguan (noise) maupun ripple pada gelombang keluaran.
Pada konfigurasi Center-Tapped Transformer, hanya terdapat dua buah dioda didalamnya dan dengan demikian hanya ada satu penjatuhan tegangan (voltage drop) pada dioda disetiap jalur arus dari transformer ke filter kapasitor. Lain halnya dengan konfigurasi Bridge yang menggunakan empat buah dioda, sehingga mengakibatkan dua voltage drop pada dioda disetiap jalur arus dari sisi transformer ke sisi filter. Namun demikian, walaupun Center-Tapped memiliki keuntungan pemakaian komponen yang lebih sedikit, namun setiap dioda paling tidak harus menahan tegangan balik (reverse voltage) yang besarnya dua kali lipat dari pada setiap dioda yang digunakan pada konfigurasi Bridge.
Tipe Peralihan (Switching)
Power Supply tipe switching menjadi semakin populer pemakaiannya karena tipe ini memberikan penyediaan daya DC yang efisiensi dan densitas dayanya sangat tinggi dibandingkan dengan tipe linier. Untuk lebih jelasnya, beberapa perbandingan antara kedua tipe tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Spesifikasi Tipe Linier Tipe Switching
Pengaturan Beban (Load regulation)
Variasi Gelombang Keluaran (Output Ripple)
Variasi Voltase masukan (Input Voltage Range)
Efisiensi
Densitas Daya (Power Density)
Waktu Peralihan (Transient Recovery) 0.02-0.01%
0.5-2 mV rms
+/- 10%
40-55%
0.5 W/in^3
50 usec 0.1-1.0%
25-100 mV p-p
+/- 50%
60-80%
2.3 W/in^3
300 usec
Tabel 1. Perbandingan antara tipe Linier dan Switching
Dari segi efisiensi, tipe linier tidak begitu baik, karena pada prosesnya hasil keluaran penyearah diturunkan tegangannya melalui pengatur linier (linear regulator), dan selisih antara tegangan yang masuk dan tegangan yang dihasilkan dibuang dalam bentuk panas. Akibat penyerapan panas (pembuangan energi) yang besar dalam proses tipe linier tersebut sehingga efisiensinya pun menjadi kecil. Sedangkan pada tipe switching, perbaikan efisiensi dicapai dengan cara pengaturan medan magnet akibat selisih tegangan masukan dengan keluaran. Pengaturan yang dimaksud berhubungan dengan proses penyimpanan dan pembuangan energi magnet yang mana pada waktu komponen penyimpan energi magnet sampai pada titik energi tertentu, maka switch yang dipakai untuk mengirim daya ke sisi beban dimatikan (off state), dan komponen penyimpan energi magnet tadi kemudian mengambil alih tugas switch untuk mengirim daya yang tersimpan menuju ke sisi beban. Apabila ‘tabungan’ energi magnet tadi hampir habis, maka switch kembali dihidupkan (on state) untuk mengambil alih kembali tugas pengiriman daya ke beban dan secara bersamaan mulai menyimpan kembali energi magnet untuk mengulang proses yang sama.
Salah satu topologi dari power supply tipe switching adalah dengan metoda flyback (flyback regulator). Pengaturan besarnya daya keluaran melalui komponen switch dikendalikan dengan metoda modulasi lebar pulsa atau PWM (Pulse Width Modulation) dimana semakin lama switch berstatus ON semakin banyak energi yang disimpan dalam transformer dan semakin besar pula daya yang dikirim ke beban. Selain itu, untuk menghasilkan tegangan keluaran yang stabil, maka tegangan tersebut dapat diumpan balik dan dibandingkan dengan tegangan referensi (reference voltage) dan selisihnya kemudian dapat digunakan untuk mengendalikan lamanya switch berstatus ON dan OFF. Sebutan lain power supply tipe switching adalah tipe "off-line" karena tegangan DC yang menjadi masukan adalah melalui proses penyearah langsung dengan penyearah Bridge dari sisi AC atau dari jaringan listrik dengan tanpa menggunakan transformer 50 atau 60 Hz. Pada rangkaian yang sama juga terlihat adanya sistim umpan balik yang harus terisolasi dari sisi AC dengan menggunakan transformer ukuran kecil ataupun dengan opto-isolator.
Banyak power supply dari tipe switching yang memiliki lebih dari satu keluaran. Banyaknya keluaran tersebut akan sangat berguna karena sering kita jumpai bermacam peralatan elektronika seperti halnya dalam sistim komputer yang membutuhkan tegangan atau daya yang berbeda beda untuk bermacam bagian atau komponen didalamnya.
Satu hal yang juga penting dalam implementasi power supply adalah cara pemasangan yang sesuai untuk pendistribusian beban.
Kesimpulan
Dalam memilih sistim pengubah daya baik itu dari daya AC ke DC maupun DC ke DC, pertama kali kita dihadapkan pada pilihan antara tipe linier atau switching. Pilihan mana yang kita ambil tentu saja tergantung dari aplikasi yang akan dibuat dengan batasan atau spesifikasi yang tersedia. Misalnya saja, untuk aplikasi dimana ukuran ataupun berat bukan merupakan hal yang penting, maka tipe linier lah yang paling sesuai karena selain sederhana dalam rancangannya juga sangat baik dalam pengaturan beban dan juga sangat kecil tingkat ripple dan noise pada keluarannya. Namun untuk aplikasi dimana fleksibilitas, dimensi fisik dan efisiensi tinggi sangat berperan seperti misalnya pada aplikasi ruang angkasa, maka tipe switchinglah yang menjadi solusinya.
Penelitian dan pengembangan teknologi pengubahan daya, terutama pada tipe switching, masih terus berlangsung dengan aktif sampai saat ini. Hal tersebut bervariasi dari yang bertujuan untuk menghasilkan teknik yang lebih meningkatkan efisiensi, investigasi pengolahan daya yang dapat mengurangi daya yang hilang (power loss) pada komponen switch, penelitian berbagai macam aplikasi sistim pengubah daya, sampai pada pencarian alternatif penggunaan komponen switch yang cepat sehingga dapat meningkatkan kecepatan frekuensi switching. Tambahan lagi, seperti sudah disebut sebelumnya bahwa bisnis peralatan pengubah daya tersebut, saat ini telah mencapai 5 milyar dolar AS pertahunnya dan akan terus meningkat dengan bertambahnya konsumen atau pemakai paralatan elektronika. Oleh karena itu, sangatlah disayangkan jika Indonesia tidak ikut berperan aktif dalam menggunakan peluang yang baik tersebut untuk penelitian, pengembangan, maupun pemasaran teknologi sistim pengubahan daya yang relatif tidak mahal dan tidak sulit untuk diterapkan di Indonesia.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, " PWM (Pulse Width Modulation) ", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Taufik, ST ,MT
Tugas : 11
PENGATURAN KECEPATAN PUTARAN KIPAS ANGIN DENGAN MENGGUNAKAN REMOTE KONTROL BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89C2051
Perkembangan dan kemajuan teknologi yang demikian pesat sangat membantu manusia dalam proses penyelesaian pekerjaan. Penemuan-penemuan disegala bidang semakin berkembang begitu juga halnya dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan semakin simple dalam bentuk dan ukurannya.
Contohnya saja kipas angin, dimana pada penggunaan kipas angin sering kali seseorang untuk menghidupkan dan mematikan atau mengganti urutan kecepatan kipas angin harus rela berjalan menuju saklar dari kipas angin tersebut. Dengan keadaan seperti ini maka dilakukan rancangan suatu alat yang memudahkan sipengguna kipas angin dapat menghidupkan dan mematikan serta mengganti urutan kecepatan kipas angin dengan menggunakan remote control.
Remote control yang dipakai disini yaitu remote sony. Jarak antara remote control dengan kipas berkisar 2 sampai 5 meter. Perubahan kecepaatan kipas angin juga dipengaruhi oleh besarnya tahanan yang dihubungkan ke rangkaian microcontroller. Semakin besar tahanan yang digunakan maka akan mempengaruhi semakin lambat kecepatan putar kipas angin, dan kecepatan putar kipas angin akan berubah semakin cepat jika tahanan yang dihubungkan pada microcontroller semakin kecil. Setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan tachometer maka didapat bahwa kecepatan 1 pada kipas angin adalah sebesar 1400 rpm sedangkan kecepatan 2 pada kipas angin adalah sebesar 1200 rpm.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, "Electronic Communication System", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Mahmuddin, ST,
Tugas : 10
Contohnya saja kipas angin, dimana pada penggunaan kipas angin sering kali seseorang untuk menghidupkan dan mematikan atau mengganti urutan kecepatan kipas angin harus rela berjalan menuju saklar dari kipas angin tersebut. Dengan keadaan seperti ini maka dilakukan rancangan suatu alat yang memudahkan sipengguna kipas angin dapat menghidupkan dan mematikan serta mengganti urutan kecepatan kipas angin dengan menggunakan remote control.
Remote control yang dipakai disini yaitu remote sony. Jarak antara remote control dengan kipas berkisar 2 sampai 5 meter. Perubahan kecepaatan kipas angin juga dipengaruhi oleh besarnya tahanan yang dihubungkan ke rangkaian microcontroller. Semakin besar tahanan yang digunakan maka akan mempengaruhi semakin lambat kecepatan putar kipas angin, dan kecepatan putar kipas angin akan berubah semakin cepat jika tahanan yang dihubungkan pada microcontroller semakin kecil. Setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan tachometer maka didapat bahwa kecepatan 1 pada kipas angin adalah sebesar 1400 rpm sedangkan kecepatan 2 pada kipas angin adalah sebesar 1200 rpm.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, "Electronic Communication System", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Mahmuddin, ST,
Tugas : 10
Radiotext
Siaran FM stereo di Indonesia sudah cukup luas diselenggarakan, bahkan hingga ke kota-kota kecil di seluruh pelosok tanah air. Sayangnya, siaran ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena masih ada fasilitas yang tidak dimanfaatkan, yakni fasilitas pengiriman teledata. Di negara-negara maju, fasilitas ini sudah sejak lama dimanfaatkan untuk mengirimkan data-data teks secara digital. Data/informasi yang dikirimkan bisa dari berbagai jenis, mulai dari informasi teks lagu yang sedang diputar saat itu, pengumuman, cuaca, iklan bioskop, hingga ke pasar uang dan informasi-informasi yang berubah dengan cepat lainnya. Karakteristik sistem teledata ini persis sama dengan sistem teletext yang sekarang sudah lazim digunakan oleh sistem televisi. Karena dikirim dengan sistem broadcast FM stereo dan diterima dengan penerima FM stereo khusus (yang memiliki pemayar) maka informasi teledata ini sangat praktis dan berguna bagi pelanggan yang mobilitasnya tinggi. Seorang pebisnis misalnya, bisa memonitor pergerakan harga saham dari menit ke menit hanya dengan mengantongi pesawat penerima saku yang dilengkapi dengan teledata. Hal inilah yang membedakannya dari sistem teletext televisi, yang (hampir) tidak memiliki mobilitas sama sekali karena untuk menerima siarannya harus menggunakan layar televisi. Pesawat televisi yang portable saat ini belum bisa digunakan dengan maksimal akibat lemahnya sinyal dari pemancar dan terlebih lagi karena sangat boros energi. Batere pesawat televisi mini yang beredar di pasar saat ini, hanya sanggup bertahan selama 2-3 jam saja. Dengan demikian, sistem teledata dengan radio akan lebih unggul dalam banyak hal dibanding dengan sistem teletext televisi.
Studi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana sistem teledata bisa diwujudkan (dengan menggunakan komponen yang tersedia di pasaran) dan kemungkinan aplikasinya di Indonesia. Karena karakteristiknya yang khas, maka pada makalah ini sistem teledata dengan radio disebut juga dengan sistem radiotext.
Sistem Radiotext dengan SCA
Fasilitas penyiaran teledata disediakan oleh setiap perangkat pemancar FM stereo yang standar. Ada dua jenis sistem pengiriman teledata yang saat ini digunakan : sistem RDS (radio data system) yang berasal dari Inggris (tepatnya dari European Broadcasting Union, EBU), dan sistem telerate yang menggunakan SCA (subsidiary communications authorization) yang berasal dari Amerika Serikat (lihat Gambar 1). RDS menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh 57 kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi amplitudo jenis DSBSC (double sideband suppressed carrier) dan lebar pita sebesar + 2 kHz setelah terlebih dulu dimodulasikan secara BPSK (bi-phase shift keying). SCA menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh 67 kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi frekuensi (FM) setelah terlebih dulu dimodulasikan secara FSK (frequency shift keying) dan deviasi maksimum sebesar 7,5 kHz. Karena menggunakan modulasi frekuensi, maka jelaslah bahwa sistem SCA lebih kebal terhadap derau dibanding sistem RDS. Keunggulan lainnya adalah laju pengiriman data yang lebih tinggi (karena lebar pitanya lebih besar) dan untai penerima yang lebih sederhana. Karena keunggulan-keunggulan itulah maka sistem SCA dipilih sebagai obyek studi untuk meneliti kemungkinan penerapannya di Indonesia.
Keterangan :
L+R = jumlah informasi suara kanal kiri dan kanan
L-R = selisih informasi suara kanal kiri dan kanan
pilot = sinyal pandu penanda siaran stereo
RDS = radio data system
SCA = subsidiary communications authorization
Seperti tampak di Gambar 1, pengiriman data teks dilakukan di luar spektrum frekuensi suara stereo (L+R dan L-R yang menempati spektrum dari 0 hingga 53 kHz), sehingga tidak timbul interferensi di antara keduanya. Pengiriman dilakukan dengan sistem modulasi bertingkat : FSK dan FM. Modulasi FSK dilakukan pada tahap awal, yakni memodulasikan data-data digital (berupa informasi "1" dan "0" dari data digital teks informasi) menjadi sinyal audio DTMF (dual tone multiple frequency). Sinyal ini kemudian dimodulasikan kembali secara FM pada frekuensi pembawa 67 kHz dengan lebar deviasi maksimum sebesar 7,5 kHz. Sinyal SCA-FM ini pada akhirnya dijumlahkan dengan sinyal multipleks FM stereo konvensional. Bagan kotak sistem FM stereo dengan fasilitas radiotext ditunjukkan di Gambar 2. Secara teoritis, kecepatan pengiriman data maksimum yang bisa dilakukan dengan sistem ini adalah sebesar 4.800 bps.
Perangkat keras yang ditambahkan pada pemancar FM stereo konvensional adalah untai antar-muka ke komputer, modulator FSK, dan modulator SCA-FM. Antar-muka komputer berfungsi untuk menjembatani jalur komunikasi serial (RS232) komputer dengan sistem SCA, karena kedua sistem ini memiliki aras tegangan logika yang berbeda (RS232 menggunakan aras -15V dan +15V untuk mewakili logika 1 dan 0, sedangkan sistem SCA menggunakan aras tegangan TTL +5V dan 0V). Untai ini menggunakan untai terintegrasi (IC) jenis MAX232, yang memang berfungsi untuk mengubah aras tegangan TTL menjadi aras tegangan RS232, dan sebaliknya. Modulator FSK berfungsi untuk memodulasikan data dari komputer (berupa aras tegangan TTL) menjadi sinyal audio DTMF (dual tone multiple frequency). Untainya menggunakan IC jenis TCM 3105 yang merupakan modem FSK chip tunggal, sehingga sangat sederhana. Modulator SCA-FM berfungsi untuk memodulasikan sinyal DTMF (dari modulator FSK) menjadi sinyal termodulasi frekuensi, dengan sub-pembawa sebesar 67 kHz. Untainya menggunakan NE565 yang merupakan untai PLL yang difungsikan sebagai modulator FM. Keluaran dari modulator SCA-FM ini akhirnya dijumlahkan dengan sinyal multipleks FM stereo konvensional dan dipancarkan. Pada penerima, modifikasi dilakukan dengan menambahkan beberapa buah untai : band pass filter 59,5~74,5 kHz yang akan mencuplik sinyal SCA dari penguat berpita lebar yang tersedia pada penerima konvensional, untai demodulator SCA-FM, untai demodulator FSK, dan untai pemayar (display circuit). Untai BPF berfungsi untuk menapis sinyal-sinyal di luar sinyal SCA yang akan diproses. Untai demodulator SCA-FM berfungsi untuk mendapatkan kembali sinyal DTMF. Seperti halnya modulator SCA, maka demodulator SCA menggunakan IC jenis NE565 sebagai komponen utamanya. Sinyal DTMF yang dihasilkan akan didemodulasikan sekali lagi oleh untai demodulator FSK sehingga didapatkan keluaran data digital yang tepat sama dengan data digital yang dikirimkan dari pemancar. Data digital ini akan diumpankan pada sistem pemayar LCD, atau bisa juga dihubungkan dengan sebuah komputer untuk memayarkannya. Untai pemayar LCD yang dirancang di sini menggunakan empat baris matriks dan menggunakan pengendali mikro (micro controller) sebagai pengendali perangkat lunak.
Data informasi teks yang dikirimkan dari komputer memiliki format yang sangat mirip dengan format data teletext pada televisi. Pada penerima, tampilan datanya adalah dalam bentuk halaman-halaman tertulis, mirip seperti majalah yang berisi baris-baris kalimat/kata dengan resolusi rendah. Dengan demikian tersedia ruang-ruang yang bisa diisi dengan informasi yang dikehendaki : berita, syair lagu, info cuaca, iklan, atau informasi lainnya. Data informasi ini terus-menerus dikirimkan halaman demi halaman sehingga setiap ada perubahan akan langsung tertampil pada penerima dalam hitungan detik. Jika misalnya dalam satu sistem terdapat 300 halaman teks, maka setelah pengiriman halaman No. 300 akan diteruskan dengan pengiriman halaman No. 1 kembali dan seterusnya (dilakukan proses data refreshing). Komputer yang digunakan untuk memasukkan data-data teks ini sekaligus juga berfungsi untuk melakukan refresh data secara otomatis. Pendengar, atau tepatnya "pemirsa" radiotext, dengan mudah akan bisa memilih halaman-halaman yang diingini dengan memanfaatkan tombol pemilih halaman. Data digital dikirimkan dengan menggunakan metoda pengiriman asynchronous untuk tiap-tiap karakter. Start bit yang dipakai adalah satu bit tanpa parity dengan jumlah data 8 bit dan sebuah stop bit. Pengiriman blok-blok data dilakukan terus-menerus secara berantai, dan jika terjadi pembaruan data maka akan langsung dikirimkan pada putaran berikutnya.
Hasil Pengujian
Pemancar, yang menggunakan sebuah stereo FM exciter, dikerjakan di frekuensi 97,25 MHz. Masukan data SCA diperoleh dari sebuah personal computer yang diisi dengan simulasi program-program tayangan radiotext. Penerima menggunakan sebuah penerima FM stereo konvensional yang telah dimodifikasi sehingga memiliki terminal keluaran untuk memproses sinyal SCA yang dihasilkan. Untai pemayar LCD digunakan untuk memayarkan program radiotext yang diterima. Dari pengujian perangkat keras diperoleh hasil seperti ditunjukkan di Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengujian perangkat keras.
Laju data maksimum 1200 bps
Deviasi maksimum sinyal SCA 7.5 kHz
Cakap silang (cross talk) sinyal SCA maksimum dengan sinyal terdekat (sinyal pita sisi atas L-R)
< -31,24 dB
Cakap silang sinyal audio frekuensi tinggi maksimum dengan sinyal SCA < - 43,60 dB
Pengujian perangkat lunak dilakukan dengan mengirim dan menerima karakter dengan berbagai variasi (berupa teks). Contoh informasi teks yang dikirim berjumlah delapan halaman dengan ragam chained transmission, dan semuanya berhasil diterima dengan tepat oleh penerima.
Sistem masukan data dari komputer yang dioperasikan oleh seorang operator juga bisa ditingkatkan dengan menghubungkannya ke jaringan internet atau jaringan komersial lainnya untuk mendapatkan informasi bisnis (atau apapun) yang terbaru secara kontinyu. Data dari lantai bursa/efek misalnya, bisa langsung ditampilkan di layar radiotext. Operator tidak perlu terus-menerus mengetik informasi yang selalu berubah itu. Teknologi jaringan semacam ini sudah tidak asing lagi karena telah banyak dimanfaatkan oleh perusahaan dan instansi di Indonesia.
Analisis
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa perancangan sistem radiotext telah berhasil diwujudkan dengan hasil yang cukup baik. Kecepatan pengiriman data yang relatif masih rendah (1.200 bps) diperkirakan sebagai akibat dari kualitas penerima yang tidak terlalu baik (memiliki kepekaan >100 V), dan adanya derau lingkungan yang relatif tinggi. Apabila kualitas penerima yang digunakan ditingkatkan, maka diperkirakan bahwa laju pengiriman data bisa ditingkatkan. Sistem radiotext sangat mungkin untuk diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat, karena teknologi perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software)-nya dapat dibuat dengan mudah. Terlebih lagi, dari hasil survei didapat keterangan bahwa hampir semua stasiun pemancar FM stereo adalah buatan luar negeri yang telah dilengkapi dengan fasilitas masukan untuk SCA (atau teledata), sehingga sangat memungkinkan untuk segera melakukan siaran radiotext. Perangkat komputer (PC) telah digunakan secara luas di stasiun-stasiun tersebut, sehingga pada dasarnya sistem radiotext sudah bisa diterapkan. Dari segi materi siarannya sendiri, radiotext akan bisa menjadi lahan alternatif baru bagi pemasukan iklan, karena sifatnya yang khas : bisa terbaca kapan saja (tidak seperti iklan spot siaran audio yang terdengar sesaar dan setelah itu hilang).
Penutup
Sistem radiotext telah bisa diwujudkan, dan aplikasinya di Indonesia dengan mudah bisa segera dilakukan karena pada umumnya pemancar FM stereo yang digunakan telah menyediakan terminal masukan untuk sinyal SCA. Namun, justru yang menjadi kendala utama adalah belum tersedianya penerima FM stereo yang dilengkapi dengan radiotext di Indonesia. Diperkirakan hal ini hanyalah masalah waktu saja, karena teknologi yang cukup murah ini diperkirakan akan segera memasuki Indonesia. Bahkan, apabila para produsen radio di Indonesia jeli dan bisa menangkap serta menyiasati kesempatan ini dengan baik mereka bisa mendahuluinya dengan membuatnya di dalam negeri dengan harga yang murah. Mereka bisa bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk mewujudkannya.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, "Electronic Communication System", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Yuliman Purwanto
Tugas : 9
Studi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana sistem teledata bisa diwujudkan (dengan menggunakan komponen yang tersedia di pasaran) dan kemungkinan aplikasinya di Indonesia. Karena karakteristiknya yang khas, maka pada makalah ini sistem teledata dengan radio disebut juga dengan sistem radiotext.
Sistem Radiotext dengan SCA
Fasilitas penyiaran teledata disediakan oleh setiap perangkat pemancar FM stereo yang standar. Ada dua jenis sistem pengiriman teledata yang saat ini digunakan : sistem RDS (radio data system) yang berasal dari Inggris (tepatnya dari European Broadcasting Union, EBU), dan sistem telerate yang menggunakan SCA (subsidiary communications authorization) yang berasal dari Amerika Serikat (lihat Gambar 1). RDS menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh 57 kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi amplitudo jenis DSBSC (double sideband suppressed carrier) dan lebar pita sebesar + 2 kHz setelah terlebih dulu dimodulasikan secara BPSK (bi-phase shift keying). SCA menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh 67 kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi frekuensi (FM) setelah terlebih dulu dimodulasikan secara FSK (frequency shift keying) dan deviasi maksimum sebesar 7,5 kHz. Karena menggunakan modulasi frekuensi, maka jelaslah bahwa sistem SCA lebih kebal terhadap derau dibanding sistem RDS. Keunggulan lainnya adalah laju pengiriman data yang lebih tinggi (karena lebar pitanya lebih besar) dan untai penerima yang lebih sederhana. Karena keunggulan-keunggulan itulah maka sistem SCA dipilih sebagai obyek studi untuk meneliti kemungkinan penerapannya di Indonesia.
Keterangan :
L+R = jumlah informasi suara kanal kiri dan kanan
L-R = selisih informasi suara kanal kiri dan kanan
pilot = sinyal pandu penanda siaran stereo
RDS = radio data system
SCA = subsidiary communications authorization
Seperti tampak di Gambar 1, pengiriman data teks dilakukan di luar spektrum frekuensi suara stereo (L+R dan L-R yang menempati spektrum dari 0 hingga 53 kHz), sehingga tidak timbul interferensi di antara keduanya. Pengiriman dilakukan dengan sistem modulasi bertingkat : FSK dan FM. Modulasi FSK dilakukan pada tahap awal, yakni memodulasikan data-data digital (berupa informasi "1" dan "0" dari data digital teks informasi) menjadi sinyal audio DTMF (dual tone multiple frequency). Sinyal ini kemudian dimodulasikan kembali secara FM pada frekuensi pembawa 67 kHz dengan lebar deviasi maksimum sebesar 7,5 kHz. Sinyal SCA-FM ini pada akhirnya dijumlahkan dengan sinyal multipleks FM stereo konvensional. Bagan kotak sistem FM stereo dengan fasilitas radiotext ditunjukkan di Gambar 2. Secara teoritis, kecepatan pengiriman data maksimum yang bisa dilakukan dengan sistem ini adalah sebesar 4.800 bps.
Perangkat keras yang ditambahkan pada pemancar FM stereo konvensional adalah untai antar-muka ke komputer, modulator FSK, dan modulator SCA-FM. Antar-muka komputer berfungsi untuk menjembatani jalur komunikasi serial (RS232) komputer dengan sistem SCA, karena kedua sistem ini memiliki aras tegangan logika yang berbeda (RS232 menggunakan aras -15V dan +15V untuk mewakili logika 1 dan 0, sedangkan sistem SCA menggunakan aras tegangan TTL +5V dan 0V). Untai ini menggunakan untai terintegrasi (IC) jenis MAX232, yang memang berfungsi untuk mengubah aras tegangan TTL menjadi aras tegangan RS232, dan sebaliknya. Modulator FSK berfungsi untuk memodulasikan data dari komputer (berupa aras tegangan TTL) menjadi sinyal audio DTMF (dual tone multiple frequency). Untainya menggunakan IC jenis TCM 3105 yang merupakan modem FSK chip tunggal, sehingga sangat sederhana. Modulator SCA-FM berfungsi untuk memodulasikan sinyal DTMF (dari modulator FSK) menjadi sinyal termodulasi frekuensi, dengan sub-pembawa sebesar 67 kHz. Untainya menggunakan NE565 yang merupakan untai PLL yang difungsikan sebagai modulator FM. Keluaran dari modulator SCA-FM ini akhirnya dijumlahkan dengan sinyal multipleks FM stereo konvensional dan dipancarkan. Pada penerima, modifikasi dilakukan dengan menambahkan beberapa buah untai : band pass filter 59,5~74,5 kHz yang akan mencuplik sinyal SCA dari penguat berpita lebar yang tersedia pada penerima konvensional, untai demodulator SCA-FM, untai demodulator FSK, dan untai pemayar (display circuit). Untai BPF berfungsi untuk menapis sinyal-sinyal di luar sinyal SCA yang akan diproses. Untai demodulator SCA-FM berfungsi untuk mendapatkan kembali sinyal DTMF. Seperti halnya modulator SCA, maka demodulator SCA menggunakan IC jenis NE565 sebagai komponen utamanya. Sinyal DTMF yang dihasilkan akan didemodulasikan sekali lagi oleh untai demodulator FSK sehingga didapatkan keluaran data digital yang tepat sama dengan data digital yang dikirimkan dari pemancar. Data digital ini akan diumpankan pada sistem pemayar LCD, atau bisa juga dihubungkan dengan sebuah komputer untuk memayarkannya. Untai pemayar LCD yang dirancang di sini menggunakan empat baris matriks dan menggunakan pengendali mikro (micro controller) sebagai pengendali perangkat lunak.
Data informasi teks yang dikirimkan dari komputer memiliki format yang sangat mirip dengan format data teletext pada televisi. Pada penerima, tampilan datanya adalah dalam bentuk halaman-halaman tertulis, mirip seperti majalah yang berisi baris-baris kalimat/kata dengan resolusi rendah. Dengan demikian tersedia ruang-ruang yang bisa diisi dengan informasi yang dikehendaki : berita, syair lagu, info cuaca, iklan, atau informasi lainnya. Data informasi ini terus-menerus dikirimkan halaman demi halaman sehingga setiap ada perubahan akan langsung tertampil pada penerima dalam hitungan detik. Jika misalnya dalam satu sistem terdapat 300 halaman teks, maka setelah pengiriman halaman No. 300 akan diteruskan dengan pengiriman halaman No. 1 kembali dan seterusnya (dilakukan proses data refreshing). Komputer yang digunakan untuk memasukkan data-data teks ini sekaligus juga berfungsi untuk melakukan refresh data secara otomatis. Pendengar, atau tepatnya "pemirsa" radiotext, dengan mudah akan bisa memilih halaman-halaman yang diingini dengan memanfaatkan tombol pemilih halaman. Data digital dikirimkan dengan menggunakan metoda pengiriman asynchronous untuk tiap-tiap karakter. Start bit yang dipakai adalah satu bit tanpa parity dengan jumlah data 8 bit dan sebuah stop bit. Pengiriman blok-blok data dilakukan terus-menerus secara berantai, dan jika terjadi pembaruan data maka akan langsung dikirimkan pada putaran berikutnya.
Hasil Pengujian
Pemancar, yang menggunakan sebuah stereo FM exciter, dikerjakan di frekuensi 97,25 MHz. Masukan data SCA diperoleh dari sebuah personal computer yang diisi dengan simulasi program-program tayangan radiotext. Penerima menggunakan sebuah penerima FM stereo konvensional yang telah dimodifikasi sehingga memiliki terminal keluaran untuk memproses sinyal SCA yang dihasilkan. Untai pemayar LCD digunakan untuk memayarkan program radiotext yang diterima. Dari pengujian perangkat keras diperoleh hasil seperti ditunjukkan di Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengujian perangkat keras.
Laju data maksimum 1200 bps
Deviasi maksimum sinyal SCA 7.5 kHz
Cakap silang (cross talk) sinyal SCA maksimum dengan sinyal terdekat (sinyal pita sisi atas L-R)
< -31,24 dB
Cakap silang sinyal audio frekuensi tinggi maksimum dengan sinyal SCA < - 43,60 dB
Pengujian perangkat lunak dilakukan dengan mengirim dan menerima karakter dengan berbagai variasi (berupa teks). Contoh informasi teks yang dikirim berjumlah delapan halaman dengan ragam chained transmission, dan semuanya berhasil diterima dengan tepat oleh penerima.
Sistem masukan data dari komputer yang dioperasikan oleh seorang operator juga bisa ditingkatkan dengan menghubungkannya ke jaringan internet atau jaringan komersial lainnya untuk mendapatkan informasi bisnis (atau apapun) yang terbaru secara kontinyu. Data dari lantai bursa/efek misalnya, bisa langsung ditampilkan di layar radiotext. Operator tidak perlu terus-menerus mengetik informasi yang selalu berubah itu. Teknologi jaringan semacam ini sudah tidak asing lagi karena telah banyak dimanfaatkan oleh perusahaan dan instansi di Indonesia.
Analisis
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa perancangan sistem radiotext telah berhasil diwujudkan dengan hasil yang cukup baik. Kecepatan pengiriman data yang relatif masih rendah (1.200 bps) diperkirakan sebagai akibat dari kualitas penerima yang tidak terlalu baik (memiliki kepekaan >100 V), dan adanya derau lingkungan yang relatif tinggi. Apabila kualitas penerima yang digunakan ditingkatkan, maka diperkirakan bahwa laju pengiriman data bisa ditingkatkan. Sistem radiotext sangat mungkin untuk diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat, karena teknologi perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software)-nya dapat dibuat dengan mudah. Terlebih lagi, dari hasil survei didapat keterangan bahwa hampir semua stasiun pemancar FM stereo adalah buatan luar negeri yang telah dilengkapi dengan fasilitas masukan untuk SCA (atau teledata), sehingga sangat memungkinkan untuk segera melakukan siaran radiotext. Perangkat komputer (PC) telah digunakan secara luas di stasiun-stasiun tersebut, sehingga pada dasarnya sistem radiotext sudah bisa diterapkan. Dari segi materi siarannya sendiri, radiotext akan bisa menjadi lahan alternatif baru bagi pemasukan iklan, karena sifatnya yang khas : bisa terbaca kapan saja (tidak seperti iklan spot siaran audio yang terdengar sesaar dan setelah itu hilang).
Penutup
Sistem radiotext telah bisa diwujudkan, dan aplikasinya di Indonesia dengan mudah bisa segera dilakukan karena pada umumnya pemancar FM stereo yang digunakan telah menyediakan terminal masukan untuk sinyal SCA. Namun, justru yang menjadi kendala utama adalah belum tersedianya penerima FM stereo yang dilengkapi dengan radiotext di Indonesia. Diperkirakan hal ini hanyalah masalah waktu saja, karena teknologi yang cukup murah ini diperkirakan akan segera memasuki Indonesia. Bahkan, apabila para produsen radio di Indonesia jeli dan bisa menangkap serta menyiasati kesempatan ini dengan baik mereka bisa mendahuluinya dengan membuatnya di dalam negeri dengan harga yang murah. Mereka bisa bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk mewujudkannya.
Daftar Pustaka
1. George Kennedy and Bernard Davis, "Electronic Communication System", Glencoe Macmillan/McGraw-Hill, Australia, 4th ed., 1992.
2. Howard M. Berlin, "Design of Phase-Locked Loop Circuit With Experiment", Howard W. Sams & Co., Inc., Indiana, 1982.
3. I. Scott Mackenzie, "The 8051 Microcontroller", Prentice-Hall Inc., Indiana, 2nd ed., 1995.
4. Xavier Pacheco and Steve Teixeria, "Delphi 2 Developers Guide", Borland Press, Indiana, New Jersey, 2nd ed., 1996.
Di posting oleh :
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Jurnal Yuliman Purwanto
Tugas : 9
Selasa, 01 Desember 2009
Studi Perbandingan Penggunaan Energi ListriK Antara Supply PLN DAN GENERATOR SET di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang tugas 08
Studi Perbandingan Penggunaan Energi ListriK Antara Supply PLN DAN GENERATOR SET di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang
Dunia Industri dan usaha di Indonesia telah berada dalam situasi ekonomi yang sulit karena dampak dari krisis moneter dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebuah manajemen energi yang baik sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan dalam menghadapi problem biaya operasional dan pengambilan keputusan investasi jangka panjang.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran mengenai koordinasi antara dua tipe sumber pembangkit dan dan kebutuhan beban di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang ditambah dengan keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber. Hasil pengolahan data didapatkan dari bebereapa macam kemungkinan kombinasi dua pembangkit untuk berbagai macam kondisi di lapangan yang berhubungan dengan proses produksi. Semua kemungkinan tersebut telah diperhitungkan terhadap seluruh biaya investasi dan operasional selama tahun 2001 sehingga dapat ditentukan bagaimana cara pengoperasian dan kontrol yang baik agar energi listrik dapat dimanfaakan seoptimal mungkin.
Hasil pengolahan data dan perhitungan diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pihak perusahaan berupa beberapa simulasi kemungkinan penggunaan dua tipe sumber pembangkit dan bagaimana sistem operasi dan control daya untuk melakukan kombinasi tersebut.
Hasil akhir dari perhitungan didapatkan kombinasi biaya Rp/kwh yang paling murah yaitu : PLN 100% dan satu buah genset terhadap kapasitas maksimalnya.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, industri dan ekonomi di segala bidang, maka mendorong PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang untuk meningkatkan produksi dan pelayanannya kepada konsumen. PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang merupakan salah satu pabrik pemintalan yang ada di Indonesia yang membutuhkan daya listrik yang cukup besar, dan peranan tenaga listrik sangatlah penting karena semua proses produksi menggunakan tenaga listrik. Pada umumnya tenaga listrik dalam suatu pabrik atau industri dipakai untuk :
1.Menjalankan motor-motor listrik.
2.Penerangan dan administrasi kantor.
PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang disupply oleh dua sumber yaitu oleh PLN dan Diesel Gnerator. Sedangkan sumber tanaga listrik dari PLN yang pelayananya diambil dari jaringan transmisi yang disalurkan ke Gardu Induk (GI) yang ada di Patal Lawang, dengan tegangan incoming sebesar 20 KV. Kemudian dari tegangan 20 KV didistribusikan ke tegangan 3 KV melalui trafo penurunan tegangan (step down transformer) di main substantion. Genset yang dipakai ada 5 buah, masing-masing sebesar 937,5 KVA. Daya terpasang dari PLNadalah sebesar 2180 KVA.
Pada proses produksi di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang, banyak sekali menggunakan motor listrik, baik berukuran besar maupun kecil dan dengan daya yang besar maupun kecil pula.
Dasar Teori
Pada masa sekarang ini di negara-negara berkembang seperti di negara kita ini kebutuhan akan energi listrik semakin hari semakin meningkat, terutama dengan semakin berkembangnya sektor industri, pendidikan, telekomunikasi, teknologi dan lain sebagainya. Sumber energi listrik tersebut dapat diperoleh dari perubahan suatu energi primer menjadi bentuk energi lainnya secara langsung ataupun secara tidak langsung. Sistem langsung atau biasa disebut dengan sistem konvensional energi, dimana energi primer dikonversikan menjadi energi listrik dengan bantuan suatu mediator perantara, seperti turbin, motor bakar, dan lain sebagainya. Pada sistem tidak langsung atau sistem non konvensional disini energi primer dikonvensikan menjadi energi listrik tanpa mediator ataupun perantara, sebagai contohnya adalah solarcell, fotosintesis, dan sebagainya.
Pada sistem konvensional banyak macam atau tipe pembangkitan tenaga listrik yang digunakan untuk menunjang serta menyediakan tenaga listrik, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrk Tenaga Nuklir (PLTN), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Pembangkit Panas Bumi (PLTPB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Hal yang harus diperhatikan dalam dalam merencanakan suatu sistem pembangkitan listrik adalah :
1.Jenis pembangkit.
2.Daya yang dibutuhkan.
3.Biaya oprasi dan perawatan serta biaya pembangunan.
Pengumpulan Data
Sumber Listrik PLN
PLN merupakan sumber listrik utama yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang. Sumber listrik PLN yang terpasang adalah sebesar 2180 KVA yang pelayanannya diambil dari jatingan transmisi yang disalurkan ke Gardu Induk (GI) yang ada di Patal Lawang sendiri dengan tegangan sebesar 20 KV, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang ada pada daerah mesin pemintalan benang dan AC. Sedangkan tegangan yang didistribusika ke PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang adalah sebesar 3 KV melalui trafo penurun tegangan (step down transformer) yang kemudian diterima oleh main substation. Untuk mempermudah pemakaian sumber listrik PLN Maka PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang memiliki dua buah trafo yang masing-masing besarnya 1250 KVA dan 200 KVA, yang 1250 KVA untuk melayani AC danmesin pembantu (seperti kompresor udara, cooling tower) dan yang 2000 KVA untuk melayani mesin pemintalan.
Untuk menurunkan tegangan dari PLN yang sebesar 20 KV menjadi tegangan 3 KV dan turun lagi ke 220 V sehingga dapat digunakan untuk mesin-mesin pabrik, makadigunakan lima buah transformer, yaitu trafo 1 dan 2 dengan daya sebesar 400 KVA, trafo 3 dengan daya sebesar 500 KVA, serta trafo 4 dan 5 dengan daya sebesar 1000 KVA.
Perhitungan dan Analisa Data
PT. Industyri Sandang Nusantara Unit II Lawang menggunakan dua pembangkit listrik sebagai sumber tenaga listrik, yaitu PLN, 5 buah generator siap pakai, dan 1 buah generator cadangan. Kedua jenis pembangkit tersebut Bekerja secara singkron. Pengaturan sinkronisasidilakukan dalam sebuah ruang power kontrol panel. Di dalam ruang kontrol inilah operator dapat mengontrol sumber listrikmana yang sedang berjalan dan akan ditambah ataupun dikurangi.
Supply Listrik PLN 2180 KVA – 20 KV
Sumber listrik PLN diambil dari Gardu Induk Lawang yang terhubung langsung dengan sambungan listrik yang ada di PT. Industri Nusantara Unit II Lawang sendiri. PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang memakai PLN sebesar 2180 KVA – 20 KV dan termasuk golongan 1-3 yaitu golangan industri menegah dengan daya diatas 200 KVA. Sumber listrik PLN merupakan sumber energi listrik utama pabrik dan berjalan setiap hari selama 24 jam non stop. Pemutusan dari pihak PLN hamper tidak pernah terjadi, apabila terjadi akan ada pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak PLN. Oleh karena itu sumber listrik lainnya hanya sebagai cadangan sementara saja dan dapat diaturdalam ruang central diesel. Ada dua panel PLN di ruang power panel karena di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang menggunakan dua buah transformator PLN yaitu tramformator 1250 KVA dan 2000 KVA.
Kesimpulan
Dari pembahasan dan perhitungan pada bab-bab sebelumnyadapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.PT. Industri Sandang usantara Unit II Lawang memiliki dua buah sumber pembangkit tenaga listrik sebagai sumber energi utama, yaitu dari PLN sebagai main supply (sumber utama) dengan daya 2180 KVA – 20 KV yang diambil dari Gardu Induk di Lawang dan Diese Generator sebagai emergency supply (sumber cadangan) dengan daya 4687,5 KVA – 3 KV (5 x @ 937,5 KVA).
2.Dari perhitungan didapatkan besar beban rata-ratabulanan periode Januari samapai Desember 2001 adalah 809.033,33KWH.
3.Dasr perhitungan biaya per KWH untuk masing-masing pembangkit memperhatikan biaya tetap dan biaya tidak tetap. yang termasuk biaya tetap diantaranya biaya modal dan penyusutan dari PLN, dan Gensen yang sudah disusutkan pada tahun berjalan, biaya beban PLN, dan gaji karyawan. Biaya tidak tetap meliputi biaya KWH PLN, penggunaan bahan bakar diesel, minyak pelumas,dan air untuk pendingin diesel.
4.Sari beberapa simulasi kombinasi perhitungan pada bab 4 didapatkan kombinasi sumber pembangkit yang paling efisien adalah PLN 100% dan 1 buah Genset terhadap kapasitas maksimal masing-masing pembangkit yang mampu menyuplai beban pada saat proses dalam keadaan maksimal.
5.Dari sudut pandang secara ekonomis didapatkan untuk masa kerja 24 jam dan beban yang sama teryata harga per KWH untuk supply listrik PLN (Rp 512,- /kwh) lebih murah dibandingkan harga per KWH untuk supply listrik Diesel.
Daftar Referensi
Baridwan, Zaki. Intermediate Accounting, edisi 7. Yogyakarta:BPFE, 1999.
Gitman, Lawrence. J, Principles of Managerial Finance. 8th ed. United Stated : Kendallville, Inc.1997..
Kotler, Philip. Marketing Management. 8th ed. Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice Hall. 1994.
Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Pedoman Umum Tata Tulis Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Kristen Petra. Surabara : Perpustakaan Universitas Kristen Petra. 2001.
Diposting oleh:
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurursan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Skripsi Harris Sindhuatmadja
Dunia Industri dan usaha di Indonesia telah berada dalam situasi ekonomi yang sulit karena dampak dari krisis moneter dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebuah manajemen energi yang baik sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan dalam menghadapi problem biaya operasional dan pengambilan keputusan investasi jangka panjang.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran mengenai koordinasi antara dua tipe sumber pembangkit dan dan kebutuhan beban di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang ditambah dengan keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber. Hasil pengolahan data didapatkan dari bebereapa macam kemungkinan kombinasi dua pembangkit untuk berbagai macam kondisi di lapangan yang berhubungan dengan proses produksi. Semua kemungkinan tersebut telah diperhitungkan terhadap seluruh biaya investasi dan operasional selama tahun 2001 sehingga dapat ditentukan bagaimana cara pengoperasian dan kontrol yang baik agar energi listrik dapat dimanfaakan seoptimal mungkin.
Hasil pengolahan data dan perhitungan diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pihak perusahaan berupa beberapa simulasi kemungkinan penggunaan dua tipe sumber pembangkit dan bagaimana sistem operasi dan control daya untuk melakukan kombinasi tersebut.
Hasil akhir dari perhitungan didapatkan kombinasi biaya Rp/kwh yang paling murah yaitu : PLN 100% dan satu buah genset terhadap kapasitas maksimalnya.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, industri dan ekonomi di segala bidang, maka mendorong PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang untuk meningkatkan produksi dan pelayanannya kepada konsumen. PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang merupakan salah satu pabrik pemintalan yang ada di Indonesia yang membutuhkan daya listrik yang cukup besar, dan peranan tenaga listrik sangatlah penting karena semua proses produksi menggunakan tenaga listrik. Pada umumnya tenaga listrik dalam suatu pabrik atau industri dipakai untuk :
1.Menjalankan motor-motor listrik.
2.Penerangan dan administrasi kantor.
PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang disupply oleh dua sumber yaitu oleh PLN dan Diesel Gnerator. Sedangkan sumber tanaga listrik dari PLN yang pelayananya diambil dari jaringan transmisi yang disalurkan ke Gardu Induk (GI) yang ada di Patal Lawang, dengan tegangan incoming sebesar 20 KV. Kemudian dari tegangan 20 KV didistribusikan ke tegangan 3 KV melalui trafo penurunan tegangan (step down transformer) di main substantion. Genset yang dipakai ada 5 buah, masing-masing sebesar 937,5 KVA. Daya terpasang dari PLNadalah sebesar 2180 KVA.
Pada proses produksi di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang, banyak sekali menggunakan motor listrik, baik berukuran besar maupun kecil dan dengan daya yang besar maupun kecil pula.
Dasar Teori
Pada masa sekarang ini di negara-negara berkembang seperti di negara kita ini kebutuhan akan energi listrik semakin hari semakin meningkat, terutama dengan semakin berkembangnya sektor industri, pendidikan, telekomunikasi, teknologi dan lain sebagainya. Sumber energi listrik tersebut dapat diperoleh dari perubahan suatu energi primer menjadi bentuk energi lainnya secara langsung ataupun secara tidak langsung. Sistem langsung atau biasa disebut dengan sistem konvensional energi, dimana energi primer dikonversikan menjadi energi listrik dengan bantuan suatu mediator perantara, seperti turbin, motor bakar, dan lain sebagainya. Pada sistem tidak langsung atau sistem non konvensional disini energi primer dikonvensikan menjadi energi listrik tanpa mediator ataupun perantara, sebagai contohnya adalah solarcell, fotosintesis, dan sebagainya.
Pada sistem konvensional banyak macam atau tipe pembangkitan tenaga listrik yang digunakan untuk menunjang serta menyediakan tenaga listrik, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrk Tenaga Nuklir (PLTN), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Pembangkit Panas Bumi (PLTPB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Hal yang harus diperhatikan dalam dalam merencanakan suatu sistem pembangkitan listrik adalah :
1.Jenis pembangkit.
2.Daya yang dibutuhkan.
3.Biaya oprasi dan perawatan serta biaya pembangunan.
Pengumpulan Data
Sumber Listrik PLN
PLN merupakan sumber listrik utama yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang. Sumber listrik PLN yang terpasang adalah sebesar 2180 KVA yang pelayanannya diambil dari jatingan transmisi yang disalurkan ke Gardu Induk (GI) yang ada di Patal Lawang sendiri dengan tegangan sebesar 20 KV, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang ada pada daerah mesin pemintalan benang dan AC. Sedangkan tegangan yang didistribusika ke PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang adalah sebesar 3 KV melalui trafo penurun tegangan (step down transformer) yang kemudian diterima oleh main substation. Untuk mempermudah pemakaian sumber listrik PLN Maka PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang memiliki dua buah trafo yang masing-masing besarnya 1250 KVA dan 200 KVA, yang 1250 KVA untuk melayani AC danmesin pembantu (seperti kompresor udara, cooling tower) dan yang 2000 KVA untuk melayani mesin pemintalan.
Untuk menurunkan tegangan dari PLN yang sebesar 20 KV menjadi tegangan 3 KV dan turun lagi ke 220 V sehingga dapat digunakan untuk mesin-mesin pabrik, makadigunakan lima buah transformer, yaitu trafo 1 dan 2 dengan daya sebesar 400 KVA, trafo 3 dengan daya sebesar 500 KVA, serta trafo 4 dan 5 dengan daya sebesar 1000 KVA.
Perhitungan dan Analisa Data
PT. Industyri Sandang Nusantara Unit II Lawang menggunakan dua pembangkit listrik sebagai sumber tenaga listrik, yaitu PLN, 5 buah generator siap pakai, dan 1 buah generator cadangan. Kedua jenis pembangkit tersebut Bekerja secara singkron. Pengaturan sinkronisasidilakukan dalam sebuah ruang power kontrol panel. Di dalam ruang kontrol inilah operator dapat mengontrol sumber listrikmana yang sedang berjalan dan akan ditambah ataupun dikurangi.
Supply Listrik PLN 2180 KVA – 20 KV
Sumber listrik PLN diambil dari Gardu Induk Lawang yang terhubung langsung dengan sambungan listrik yang ada di PT. Industri Nusantara Unit II Lawang sendiri. PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang memakai PLN sebesar 2180 KVA – 20 KV dan termasuk golongan 1-3 yaitu golangan industri menegah dengan daya diatas 200 KVA. Sumber listrik PLN merupakan sumber energi listrik utama pabrik dan berjalan setiap hari selama 24 jam non stop. Pemutusan dari pihak PLN hamper tidak pernah terjadi, apabila terjadi akan ada pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak PLN. Oleh karena itu sumber listrik lainnya hanya sebagai cadangan sementara saja dan dapat diaturdalam ruang central diesel. Ada dua panel PLN di ruang power panel karena di PT. Industri Sandang Nusantara Unit II Lawang menggunakan dua buah transformator PLN yaitu tramformator 1250 KVA dan 2000 KVA.
Kesimpulan
Dari pembahasan dan perhitungan pada bab-bab sebelumnyadapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.PT. Industri Sandang usantara Unit II Lawang memiliki dua buah sumber pembangkit tenaga listrik sebagai sumber energi utama, yaitu dari PLN sebagai main supply (sumber utama) dengan daya 2180 KVA – 20 KV yang diambil dari Gardu Induk di Lawang dan Diese Generator sebagai emergency supply (sumber cadangan) dengan daya 4687,5 KVA – 3 KV (5 x @ 937,5 KVA).
2.Dari perhitungan didapatkan besar beban rata-ratabulanan periode Januari samapai Desember 2001 adalah 809.033,33KWH.
3.Dasr perhitungan biaya per KWH untuk masing-masing pembangkit memperhatikan biaya tetap dan biaya tidak tetap. yang termasuk biaya tetap diantaranya biaya modal dan penyusutan dari PLN, dan Gensen yang sudah disusutkan pada tahun berjalan, biaya beban PLN, dan gaji karyawan. Biaya tidak tetap meliputi biaya KWH PLN, penggunaan bahan bakar diesel, minyak pelumas,dan air untuk pendingin diesel.
4.Sari beberapa simulasi kombinasi perhitungan pada bab 4 didapatkan kombinasi sumber pembangkit yang paling efisien adalah PLN 100% dan 1 buah Genset terhadap kapasitas maksimal masing-masing pembangkit yang mampu menyuplai beban pada saat proses dalam keadaan maksimal.
5.Dari sudut pandang secara ekonomis didapatkan untuk masa kerja 24 jam dan beban yang sama teryata harga per KWH untuk supply listrik PLN (Rp 512,- /kwh) lebih murah dibandingkan harga per KWH untuk supply listrik Diesel.
Daftar Referensi
Baridwan, Zaki. Intermediate Accounting, edisi 7. Yogyakarta:BPFE, 1999.
Gitman, Lawrence. J, Principles of Managerial Finance. 8th ed. United Stated : Kendallville, Inc.1997..
Kotler, Philip. Marketing Management. 8th ed. Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice Hall. 1994.
Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Pedoman Umum Tata Tulis Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Kristen Petra. Surabara : Perpustakaan Universitas Kristen Petra. 2001.
Diposting oleh:
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurursan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Skripsi Harris Sindhuatmadja
Tugas Tatatulis Karya Ilmiah yanh ke 7
Studi Pemeliharaan Pada Jaringan Bertegangan 20 KV Dengan Metode BerjarakDi PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi Jawa Timur UPJ Area Gresik
Pekerjaan Jaringan Dalam Keadaan Bertegangan(PDKB) di PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik pada tegangan 20 KV, menggunakan metode berjarak menggunakan stick yang berisolasi dan dibantu oleh peralatan pelengkap lainnya. Untuk pelaksanaan PDKB tanpa memadamkan aliran listrik, sehingga kwh yang hilang dapatdiselamatkan. PDKB ini berguna untuk meningkatkan keandalan penyaluran tenaga listrik, meningkatkan pelayanan kepada konsumen serta mengurangi pemadaman listrik.
Pengumpulan data dilakukan di lapangan lalu dianalisa mengenaimanfaat PDKB. Pelaksanaan PDKB 20 KV (TM) ini meliputi pemasangan bara serta pemeliharaan jaringan yang telah ada tanpa padam. KWH yang diselamatkan oleh PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik dari bulan Januari sampai dengan September tahun 2002 adalah sebesar 2384424 KWH dengan tingkat keandalan SAIDI sebesar 0,5626 % dan SIFI sebesar 15,0135 %
Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sektor perindustrian serta meningkatnya kehidupan rumah tangga dengan peralatan serba listrik dewasa ini maka kehidupan akan energi listrik semakin meningkat. Hal ini mgengakibatkan ketergantungan masyarakat terhadap energi listrik semakin besar sehingga keinginan masyarakat terhadap listrik semakin baik pelayanan dan kontinyuitas penyaluran listrik bertambah besar pula.
Oleh karena itu, dengan setiap terhentinya aliran listrik baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja akan menimbulkan keluhan bagi masyarakat konsumen listrik dan ini jelas merugikan pihak perusahaan listrik sendiri. Di lain pihak, semua jaringan distribusi memerlukan pemeliharaan dan perbaikan baik secara berkala maupun tiba-tiba mendadak akibat berbagai gangguan dan kerusakan, hal ini juga dapat menyebabkan terhentinya penyaluran aliran listrik kepada konsumen.
Maka dari itu dalam rangka meningkatkan keandalan penyaluran tenaga listrik dan pelayangan kepada konsumen serta upaya mengurangi pemadaman listrik terencana yang diakibatkan oleh pekerjaan pemeliharaan dan perluasan jaringan maka PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik melalui PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan) berusaha agar dalam pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas dapat dilaksanakan tanpa harus memadamkan aliran listrik.
Tujuan
Meningkatkan efisiensi PLN dalam hal keandalan untuk pemasangan atau penyambungan pelanggan industri baru tanpa adanya pemadaman listrik, untuk menekan KWH yang tidak terjual sekecil mungkin akibat dari pemadaman.
Jaringan Distribusi
Sistem tenaga listrik merupakan sistem saranapenyaluran tenaga listrik dari titk sumber ke titik pusat beban (konsumen). Penyaluran tenaga listrik ini mempunyai peranan penting dalam penyuplai tenaga listrik ke konsumen, hal ini di karenakan apabila terjadi gangguan pada penyaluran tenaga listrik maka dapat mengakibatkan kerugian baik kepada konsumen maupun pada PLN itu sendiri.
Penyaluran tenaga listrik dibagi menjadi 2 kategori, yaitu:
1.Saluran Udara (overhead line)
Menyalurkan tenaga listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada tiang-tiang transmisidengan perantaraan isolator-isolator.
2.Saluran Bawah Tanah (Under Ground)
Menyalurkan tenaga listrik melalui kabel-kabel bawah tanah.
Analisa Data Pemeliharaan
Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaaan Bertegangan
Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) memiliki struksur organisasi yang dimulai dari koordinator, yang kemudian dibawah koordinator terdapat preparator
yang tugasnya adalah yang mensurvei, yang membagi tugas dengan lain-lain yang selanjutnya dibawahnya terdapat dua pengawas yang fungsinya untuk mengawasi para petugas pelaksana PDKB yang urutannya berada dibawah pengawas atau yang disebut linesmen seperti pada gambar di bawah ini :
Koordinator
Preparator
Pengawasan
Linesment Linesment Linesment Linesment
Kesimpulan
1.Hotline maintenance (PDKB) merupaka pekerjaan pada saluran bertegangan 20 KV tanpa memadamkan salauran listrik, sehingga tidak menggangu dan merugikan pada konsumen maupun PLN sendiri.
2.Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) menggunakan metode berjarak dengan stick danperalatan lengkap lainnya.
Daftar Pustaka
1.…,”Pembukuan Pusat Listrik Tenaga Diesel”, SPLN 47-1, PLN, 1981
2.…,” Pembukuan Pusat Listrik Tenaga Diesel”, SPLN 47-2, PLN, 1982
3.Marsudi, D. “ Pembangkit Energi Listrik”, Erlangga, Jakarta,2005
4.Nasrudin,D. “ Analisa Produksi Listrik Pada PLTMH Kampung Melong Kabupaten Subang”, Skripsi Sarjana, Fakultas Teknikm Industri, UMB,2005
5.Rizal, A. “ Studi Tentang Pembangkit Listrik Tenaga Diesel(PLTD) dengan daya 4 x 500 Kw di Pulau Bawean”, Skripsi Sarjana, FTI, UKP. 2001
Diposting oleh:
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurursan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Skripsi Cecilia Komara
Pekerjaan Jaringan Dalam Keadaan Bertegangan(PDKB) di PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik pada tegangan 20 KV, menggunakan metode berjarak menggunakan stick yang berisolasi dan dibantu oleh peralatan pelengkap lainnya. Untuk pelaksanaan PDKB tanpa memadamkan aliran listrik, sehingga kwh yang hilang dapatdiselamatkan. PDKB ini berguna untuk meningkatkan keandalan penyaluran tenaga listrik, meningkatkan pelayanan kepada konsumen serta mengurangi pemadaman listrik.
Pengumpulan data dilakukan di lapangan lalu dianalisa mengenaimanfaat PDKB. Pelaksanaan PDKB 20 KV (TM) ini meliputi pemasangan bara serta pemeliharaan jaringan yang telah ada tanpa padam. KWH yang diselamatkan oleh PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik dari bulan Januari sampai dengan September tahun 2002 adalah sebesar 2384424 KWH dengan tingkat keandalan SAIDI sebesar 0,5626 % dan SIFI sebesar 15,0135 %
Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sektor perindustrian serta meningkatnya kehidupan rumah tangga dengan peralatan serba listrik dewasa ini maka kehidupan akan energi listrik semakin meningkat. Hal ini mgengakibatkan ketergantungan masyarakat terhadap energi listrik semakin besar sehingga keinginan masyarakat terhadap listrik semakin baik pelayanan dan kontinyuitas penyaluran listrik bertambah besar pula.
Oleh karena itu, dengan setiap terhentinya aliran listrik baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja akan menimbulkan keluhan bagi masyarakat konsumen listrik dan ini jelas merugikan pihak perusahaan listrik sendiri. Di lain pihak, semua jaringan distribusi memerlukan pemeliharaan dan perbaikan baik secara berkala maupun tiba-tiba mendadak akibat berbagai gangguan dan kerusakan, hal ini juga dapat menyebabkan terhentinya penyaluran aliran listrik kepada konsumen.
Maka dari itu dalam rangka meningkatkan keandalan penyaluran tenaga listrik dan pelayangan kepada konsumen serta upaya mengurangi pemadaman listrik terencana yang diakibatkan oleh pekerjaan pemeliharaan dan perluasan jaringan maka PT. PLN Persero Unit Bisnis Distribusi (UBD) Jawa Timur UPJ Area Gresik melalui PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan) berusaha agar dalam pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas dapat dilaksanakan tanpa harus memadamkan aliran listrik.
Tujuan
Meningkatkan efisiensi PLN dalam hal keandalan untuk pemasangan atau penyambungan pelanggan industri baru tanpa adanya pemadaman listrik, untuk menekan KWH yang tidak terjual sekecil mungkin akibat dari pemadaman.
Jaringan Distribusi
Sistem tenaga listrik merupakan sistem saranapenyaluran tenaga listrik dari titk sumber ke titik pusat beban (konsumen). Penyaluran tenaga listrik ini mempunyai peranan penting dalam penyuplai tenaga listrik ke konsumen, hal ini di karenakan apabila terjadi gangguan pada penyaluran tenaga listrik maka dapat mengakibatkan kerugian baik kepada konsumen maupun pada PLN itu sendiri.
Penyaluran tenaga listrik dibagi menjadi 2 kategori, yaitu:
1.Saluran Udara (overhead line)
Menyalurkan tenaga listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada tiang-tiang transmisidengan perantaraan isolator-isolator.
2.Saluran Bawah Tanah (Under Ground)
Menyalurkan tenaga listrik melalui kabel-kabel bawah tanah.
Analisa Data Pemeliharaan
Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaaan Bertegangan
Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) memiliki struksur organisasi yang dimulai dari koordinator, yang kemudian dibawah koordinator terdapat preparator
yang tugasnya adalah yang mensurvei, yang membagi tugas dengan lain-lain yang selanjutnya dibawahnya terdapat dua pengawas yang fungsinya untuk mengawasi para petugas pelaksana PDKB yang urutannya berada dibawah pengawas atau yang disebut linesmen seperti pada gambar di bawah ini :
Koordinator
Preparator
Pengawasan
Linesment Linesment Linesment Linesment
Kesimpulan
1.Hotline maintenance (PDKB) merupaka pekerjaan pada saluran bertegangan 20 KV tanpa memadamkan salauran listrik, sehingga tidak menggangu dan merugikan pada konsumen maupun PLN sendiri.
2.Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) menggunakan metode berjarak dengan stick danperalatan lengkap lainnya.
Daftar Pustaka
1.…,”Pembukuan Pusat Listrik Tenaga Diesel”, SPLN 47-1, PLN, 1981
2.…,” Pembukuan Pusat Listrik Tenaga Diesel”, SPLN 47-2, PLN, 1982
3.Marsudi, D. “ Pembangkit Energi Listrik”, Erlangga, Jakarta,2005
4.Nasrudin,D. “ Analisa Produksi Listrik Pada PLTMH Kampung Melong Kabupaten Subang”, Skripsi Sarjana, Fakultas Teknikm Industri, UMB,2005
5.Rizal, A. “ Studi Tentang Pembangkit Listrik Tenaga Diesel(PLTD) dengan daya 4 x 500 Kw di Pulau Bawean”, Skripsi Sarjana, FTI, UKP. 2001
Diposting oleh:
Nama : Muhammad Ardhinata
NIM : 41407010018
Fakultas : Teknologi Industri
Jurursan : Teknik Elektro
Skripsi/ Jurnal : Skripsi Cecilia Komara
Langganan:
Postingan (Atom)